Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali menunjukkan peningkatan yang signifikan. Setelah sempat mereda sejenak, gunung berapi aktif yang terletak di Selat Sunda ini dilaporkan kembali mengalami rentetan erupsi pada Selasa pagi (8/9/2026). Peristiwa ini memicu kewaspadaan tinggi bagi otoritas terkait dan masyarakat sekitar kawasan pesisir Banten dan Lampung.
Berdasarkan data resmi dari situs Magma Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Anak Krakatau tercatat meletus beberapa kali sejak fajar menyingsing. Rangkaian erupsi tersebut terdeteksi berturut-turut pada pukul 05.08 WIB, pukul 05.34 WIB, dan yang terbaru pada pukul 07.49 WIB. Meskipun kolom abu vulkanik tidak terlihat secara visual akibat tertutup kabut atau faktor cuaca, instrumen seismograf merekam aktivitas ini dengan sangat jelas.
Pada letusan terakhir pukul 07.49 WIB, seismogram mencatat getaran dengan amplitudo maksimum mencapai 48 mm serta durasi gempa hembusan selama kurang lebih 19 detik. Tingginya angka amplitudo ini mengindikasikan adanya tekanan energi yang cukup kuat dari dalam perut bumi.
Sebelumnya, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sempat mengumumkan bahwa aktivitas erupsi menerus dari Gunung Anak Krakatau sempat terhenti pada Minggu (6/9/2026) dini hari. Namun, ketenangan tersebut rupanya hanya sesaat. Potensi terjadinya letusan susulan dinilai masih sangat tinggi seiring dengan dinamisnya pergerakan magma di bawah kawah.
Kepala PVMBG Kementerian ESDM, Siti Sumilah Rita Susilawati, menegaskan bahwa status aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau saat ini masih bertahan di Level III (Siaga). Status siaga ini menunjukkan bahwa ancaman bahaya belum sepenuhnya mereda. Otoritas setempat mengimbau masyarakat, nelayan, maupun wisatawan untuk tidak mendekati kawah aktif dalam radius aman yang telah ditentukan guna menghindari material vulkanik berbahaya yang sewaktu-waktu bisa terlontar.








