Kasus keracunan massal menimpa ratusan santri dan pelajar di Sidoarjo, Jawa Timur, setelah mengonsumsi menu dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menanggapi peristiwa tersebut, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah Tanggulangin, Rafli Ridho, secara terbuka menyampaikan permohonan maaf dan penyesalan mendalam atas insiden yang merugikan ratusan anak tersebut.
Tercatat sebanyak 566 santri dari Pondok Pesantren Manbaul Hikam serta murid dari beberapa lembaga pendidikan lainnya, termasuk SD Kalianget 1 dan SD Kalianget 2, mengalami gejala keracunan. Para korban dilaporkan mengalami mual dan pusing setelah menyantap paket makanan yang didistribusikan oleh pihak SPPG.
Terkait kronologi pembuatan makanan, Rafli memaparkan bahwa proses memasak di dapur SPPG dimulai sejak pukul 00.00 WIB. Makanan tersebut kemudian didistribusikan ke sekolah-sekolah sekitar pukul 11.00 WIB dengan estimasi daya tahan hidangan selama empat jam. Meski muncul dugaan makanan telah basi, Rafli mengeklaim pihaknya telah menjalankan prosedur pemeriksaan organoleptik bersama penanggung jawab sekolah sebelum makanan dibagikan, dan saat itu dinyatakan layak konsumsi.
Merespons kejadian luar biasa ini, Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Jawa Timur langsung mengambil tindakan tegas. Wakil Koordinator BGN Jatim, Teguh Bayu Wibowo, mengonfirmasi bahwa operasional dapur SPPG Kalitengah kini dihentikan sementara (suspen) berdasarkan instruksi pusat. SPPG tersebut diketahui memproduksi sekitar 2.800 porsi makanan per hari, dengan alokasi terbesar untuk Ponpes Manbaul Hikam.
Saat ini, sampel makanan pemicu keracunan telah diamankan oleh Dinas Kesehatan Sidoarjo dan kepolisian setempat untuk dilakukan uji laboratorium guna mengetahui penyebab pasti kontaminasi. Keputusan mengenai kelanjutan izin operasional dapur SPPG tersebut masih menunggu hasil evaluasi menyeluruh yang diperkirakan keluar dalam sepekan ke depan.








