Peta politik tanah air kembali menunjukkan dinamika yang menarik menjelang kontestasi kepemimpinan nasional. Berdasarkan hasil survei terbaru yang dirilis oleh lembaga riset Median, Prabowo Subianto kokoh memimpin puncak elektabilitas calon presiden (capres). Namun yang cukup mengejutkan, nama Dedi Mulyadi melesat ke posisi kedua, membayangi ketat Anies Baswedan, sementara elektabilitas Gibran Rakabuming Raka tercatat masih tertinggal jauh.
Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun, menjelaskan bahwa dalam simulasi pertanyaan terbuka (top of mind), Prabowo Subianto berhasil meraih elektabilitas sebesar 32,2 persen. Kejutan datang dari mantan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, yang bertengger di posisi kedua dengan 19,8 persen, disusul sangat tipis oleh Anies Baswedan di posisi ketiga dengan raihan 19,5 persen. Sementara itu, Gibran Rakabuming Raka hanya mampu mengantongi elektabilitas sebesar 2,0 persen pada kategori ini.
Tren serupa juga terlihat dalam metode simulasi pertanyaan semi terbuka. Prabowo Subianto tetap mendominasi di posisi teratas dengan angka 32,4 persen. Persaingan ketat kembali terjadi di posisi kedua dan ketiga, di mana Dedi Mulyadi memperoleh 20,6 persen, unggul tipis dari Anies Baswedan yang mengumpulkan 20,5 persen dukungan. Di sisi lain, elektabilitas Gibran mengalami sedikit kenaikan menjadi 2,6 persen pada simulasi ini, disusul figur lain seperti Ganjar Pranowo (5,0 persen) dan Sherly Tjoanda (4,1 persen).
Survei nasional yang digelar oleh Median ini berlangsung pada periode 21 Juli hingga 2 Agustus 2026. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka langsung (face-to-face interview) dengan melibatkan 1.212 responden yang telah memiliki hak pilih di seluruh Indonesia. Dengan metode pengambilan sampel secara acak bertingkat (multistage random sampling), riset ini memiliki margin of error sebesar kurang lebih 2,76 persen pada tingkat kepercayaan mencapai 95 persen.
Rico Marbun menekankan bahwa temuan ini merefleksikan persepsi publik yang dinamis selama periode pengambilan data tersebut. Fluktuasi angka ini mengindikasikan bahwa peta dukungan pemilih masih sangat cair dan berpotensi terus berubah seiring berjalannya waktu serta perkembangan isu-isu politik nasional yang berkembang di tengah masyarakat.








