Aksi kepedulian sosial yang luar biasa ditunjukkan oleh masyarakat Sumatra Barat untuk membantu meringankan beban korban gempa bumi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui inisiatif Pemerintah Kota Padang bersama berbagai elemen masyarakat, bantuan logistik berupa makanan khas Minangkabau, rendang, dikirimkan secara bertahap menuju wilayah terdampak bencana.
Wali Kota Padang, Fadly Amran, secara resmi melepas pengiriman bantuan pangan darurat ini di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Kabupaten Padang Pariaman. Pengiriman bantuan ini memanfaatkan armada pesawat Hercules milik TNI Angkatan Udara yang diterbangkan menuju Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta sebelum akhirnya didistribusikan langsung ke lokasi bencana di NTT.
Langkah kemanusiaan ini tidak hanya melibatkan jajaran birokrasi, tetapi juga menjadi bukti nyata sinergi lintas sektor. Hadir dalam pelepasan tersebut antara lain Kepala Dinas Sosial Kota Padang Eri Sendjaya, Anggota DPRD Padang M. Fautiaz Fauzi, Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar Fauzi Bahar, serta perwakilan dari Himpunan Pengusaha Rendang Minangkabau (Hipermi) dan Baznas Kota Padang.
Fadly Amran, yang juga memimpin DPW Gerakan Ekonomi dan Budaya Minangkabau (Gebu Minang) Sumatra Barat, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang menginisiasi gerakan kemanusiaan ini. Upaya pengumpulan donasi rendang ini merupakan kelanjutan dari pengiriman perdana yang telah dilaksanakan bertepatan dengan momen Hari Kemerdekaan RI.
“Solidaritas ini adalah bentuk empati mendalam dari ranah Minang untuk saudara-saudara kita di NTT. Hingga saat ini, sebanyak 3,6 ton rendang telah berhasil dikumpulkan, dan kami menargetkan total bantuan dapat mencapai 5 ton dalam waktu dekat,” ujar Fadly.
Keputusan memilih rendang sebagai bantuan pangan utama bukanlah tanpa alasan. Ketua LKAAM Sumbar, Fauzi Bahar, menjelaskan bahwa rendang memiliki keunggulan sebagai kuliner siap saji yang tidak hanya bergizi tinggi tetapi juga memiliki daya tahan penyimpanan yang sangat lama tanpa memerlukan pemanas khusus. Karakteristik ini menjadikannya sangat ideal dan praktis untuk didistribusikan di area pengungsian yang minim fasilitas memasak.
Kolaborasi multisektor antara pemerintah daerah, komunitas adat, pelaku usaha kuliner, hingga lembaga sosial ini mencerminkan kuatnya nilai gotong royong bangsa Indonesia dalam menghadapi bencana alam.








