Wilayah Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali diguncang gempa susulan berkekuatan magnitudo 6,0 pada Kamis pagi. Peristiwa yang berpusat di 43 kilometer timur laut Ruteng dengan kedalaman 10 kilometer ini tidak berpotensi tsunami, namun memicu kepanikan luar biasa di tengah masyarakat setempat.
Di balik guncangan yang terjadi sekitar pukul 10.46 WITA tersebut, sebuah insiden memilukan merenggut nyawa seorang warga Kelurahan Tenda, Kecamatan Langke Rembong, bernama Servolus Jebarus (56). Korban dilaporkan meninggal dunia bukan akibat tertimpa reruntuhan material bangunan, melainkan karena serangan jantung pasca-kepanikan massal yang melanda lingkungannya.
Menurut keterangan saksi keluarga, teriakan panik warga saat guncangan pertama membuat korban terkejut hingga jatuh lemas. Meskipun sempat dilarikan ke RSUD Ben Mboi Ruteng untuk memperoleh penanganan medis darurat, nyawa pria yang memiliki riwayat penyakit jantung tersebut tidak dapat diselamatkan. Almarhum kini meninggalkan seorang istri dan lima orang anak.
Rangkaian Gempa Susulan Masih Berlanjut
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa ini merupakan bagian dari ribuan guncangan susulan pascalindu utama berkekuatan magnitudo 7,7 yang terjadi pada Sabtu lalu. BMKG telah mencatat lebih dari 3.400 kali gempa susulan dengan variasi kekuatan antara M 1,0 hingga M 6,2.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen Suharyanto, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah termakan isu bohong terkait potensi tsunami susulan. Pihaknya memperkirakan aktivitas seismik masih akan terus berlangsung hingga dua hingga tiga pekan ke depan, tetapi dengan kecenderungan tren intensitas yang semakin melemah.
Dampak Bencana Gempa NTT
Hingga saat ini, data BNPB mencatat total korban jiwa akibat rangkaian gempa di NTT telah mencapai 72 orang meninggal dunia dan lebih dari 900 warga mengalami luka-luka. Selain itu, sebanyak 82.691 jiwa terpaksa mengungsi di berbagai titik penampungan darurat.
Kerusakan infrastruktur pun cukup masif, mencakup lebih dari 29 ribu unit rumah warga, puluhan jembatan, serta ratusan fasilitas umum seperti sekolah dan rumah ibadah. Pemerintah Provinsi NTT sendiri telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana selama 14 hari hingga akhir Agustus guna mempercepat penanganan evakuasi serta penyaluran bantuan logistik bagi para korban terdampak.








