Kondisi pesisir Jawa Timur kembali menghadapi tantangan berat akibat pencemaran lingkungan. Baru-baru ini, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Timur merilis temuan mengejutkan mengenai darurat sampah di Pantai Sidem, Kabupaten Tulungagung. Hasil audit lingkungan menunjukkan bahwa limbah popok sekali pakai menjadi jenis sampah yang paling mendominasi kawasan pantai tersebut, disusul oleh kemasan plastik sachet dan wadah plastik sekali pakai.
Dalam aksi bersih-bersih pantai yang diinisiasi dalam kampanye Plastic Free July, koalisi peduli lingkungan berhasil mengumpulkan total 252,15 kilogram sampah. Dari jumlah tersebut, tim memilah 153,63 kilogram sampah anorganik dan menemukan fakta mencengangkan: popok bayi bekas mendominasi dengan berat mencapai 52 kilogram. Selain itu, kantong plastik tanpa merek menyumbang beban sekitar 34 kilogram, diikuti kemasan sachet bermerek produk makanan dan kopi instan.
Lucky Wahyu Wardana, Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye Walhi Jatim, menegaskan bahwa audit ini krusial untuk melacak pihak yang bertanggung jawab atas pencemaran ini. “Temuan ini menjadi landasan kuat kami untuk mendorong para produsen agar ikut bertanggung jawab terhadap siklus hidup kemasan produk yang mereka pasarkan,” ujarnya. Identifikasi sampah plastik ini menyasar merek-merek populer, mulai dari produk mi instan hingga air minum dalam kemasan (AMDK) yang kerap mengotori area wisata pantai.
Persoalan sampah pesisir ini sejatinya bukan hanya menjadi beban masyarakat lokal dan pemerintah daerah. Manajer Kebijakan Publik Walhi Jatim, Siti Mutmainnah, mengingatkan kembali pentingnya kepatuhan terhadap Peraturan Menteri LHK Nomor 75 Tahun 2019. Regulasi tersebut mewajibkan produsen manufaktur untuk menyusun peta jalan pengurangan sampah dan mulai beralih ke kemasan yang lebih ramah lingkungan.
Secara geografis, Pantai Sidem merupakan muara dari Sungai Niyama. Hal ini menjadikannya ujung pelarian bagi sampah-sampah yang hanyut dari wilayah hulu sebelum akhirnya terdampar di pesisir pantai. Kolaborasi yang melibatkan Aliansi Lingkar Wilis Indonesia (ALWI), PPLH Mangkubumi, Mapala Himalaya, dan LPM Aksara ini diharapkan menjadi alarm keras bagi pemangku kebijakan untuk segera membenahi sistem pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir.

