Lumajang Berduka: Lahar Dingin Semeru dan Longsor Landa, Renggut Nyawa, Putuskan Akses Warga

Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali diuji dengan serangkaian bencana hidrometeorologi yang melumpuhkan sebagian wilayahnya. Hujan deras yang tak henti mengguyur sejak akhir pekan lalu memicu fenomena lahar dingin dari Gunung Semeru, diikuti longsor masif yang merenggut nyawa dan memutus akses vital. Ribuan warga terpaksa merasakan dampak langsung dari amukan alam ini, menambah daftar panjang daerah rawan bencana di Indonesia.

Peristiwa tragis ini mencapai puncaknya pada awal pekan, ketika aliran deras lahar dingin Semeru, yang materialnya berasal dari puncak gunung berapi aktif tersebut, mengalir melalui Sungai Glidik. Debit air yang melonjak drastis, diperparah oleh luapan Sungai Rawaan dan Dol, mengakibatkan banjir bandang di sejumlah kecamatan. Kecamatan Pasirian, Jatiroto, dan Tempursari menjadi saksi bisu keganasan alam, dengan genangan air yang mencapai puluhan sentimeter di area pemukiman.

Read More

Dampak paling mencolok adalah terputusnya konektivitas vital. Jembatan penghubung antara Kabupaten Malang dan Lumajang, yang melintasi Sungai Glidik, dilaporkan tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat, secara efektif mengisolasi sebagian wilayah. Tak hanya itu, longsor juga menghantam beberapa titik strategis, termasuk jalan tembus Tamansari-Iburaja, serta akses utama Purorejo-Tamansari Bawah sepanjang sekitar 100 meter, yang kini nyaris tak berbentuk. Tanggul penahan air di kawasan Wareng, Dusun Pasirejo, juga dilaporkan jebol, memperparah genangan dan ancaman banjir susulan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mencatat bahwa bencana ini telah berdampak pada lebih dari seribu jiwa. Di Dusun Persil, Desa Rojopolo, sekitar 500 warga di RW 09, 10, dan 11 mengalami dampak genangan air dengan ketinggian bervariasi. Sementara di Kecamatan Tempursari, sekitar 600 jiwa turut merasakan kepedihan yang sama. Lebih mirisnya lagi, sekitar 117 Kepala Keluarga di Dusun Taman Sari kini terisolasi total, terperangkap oleh material longsor dan banjir yang menutup seluruh akses keluar masuk.

Sebelum rentetan bencana lahar dan banjir ini, Lumajang juga telah dilanda duka mendalam akibat longsor pada Sabtu dini hari. Di Dusun Jonggrang, Desa Tamanayu, Kecamatan Pronojiwo, dua korban jiwa ditemukan meninggal dunia tertimbun material longsor. Mereka adalah Imron, 40 tahun, dan putrinya, Hilya, 9 tahun, yang saat kejadian tengah terlelap di rumah mereka. Tragedi ini menjadi pengingat pahit akan kerentanan masyarakat di lereng gunung terhadap ancaman bencana alam.

Menyikapi situasi darurat ini, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui BPBD bergerak cepat untuk memberikan bantuan kemanusiaan. Tim di lapangan terus melakukan pendataan dan evaluasi kerusakan, sekaligus memastikan kebutuhan dasar bagi para korban terdampak terpenuhi. Bantuan logistik berupa paket sembako, material bangunan seperti semen dan bata untuk pemulihan infrastruktur, serta santunan duka cita sebesar total Rp 20.000.000 untuk keluarga korban meninggal dunia, telah disiapkan sebagai bentuk solidaritas dan dukungan pemulihan pasca-bencana. Kondisi geografis Lumajang yang dikelilingi perbukitan dan dilintasi sungai berhulu di Semeru menuntut kesiapsiagaan dan mitigasi bencana yang berkelanjutan.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *