JAKARTA – Di tengah pusaran ketidakpastian ekonomi global yang terus bergejolak, Bank Indonesia (BI) berhasil menunjukkan ketangguhannya dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Sebuah kebijakan strategis terkait insentif biaya lindung nilai (hedging) yang digulirkan bank sentral terbukti ampuh mendatangkan aliran dana asing (capital inflow) yang substansial, mencapai kisaran US$8 miliar hingga US$9 miliar, atau setara dengan Rp144,35 triliun hingga Rp162,39 triliun.
Dana masif tersebut, sebagaimana diungkapkan oleh Gubernur BI Destry Damayanti, mengalir melalui dua instrumen utama: transaksi foreign exchange swap (FX swap) dan domestic non-deliverable forward (DNDF). Insentif ini mulai diterapkan sejak akhir Juni lalu dan menjadi pilar penting dalam upaya BI untuk meredam dampak fluktuasi global terhadap mata uang domestik.
“Insentif biaya lindung nilai yang telah kami berikan sejak akhir Juni lalu, hingga saat ini, berhasil mendatangkan aliran dana masuk, baik dalam bentuk FX swap maupun DNDF, senilai sekitar US$8 miliar hingga US$9 miliar,” jelas Destry dalam sebuah kesempatan di Istana Merdeka, Jakarta Pusat.
Langkah progresif ini bukan satu-satunya jurus BI. Bank sentral secara simultan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing. Instrumen seperti transaksi spot, DNDF, dan non-deliverable forward (NDF) dimanfaatkan untuk mengelola pergerakan Rupiah. Destry menegaskan bahwa BI akan selalu memantau ketat dinamika Rupiah di tengah volatilitas pasar global yang kerap tak terduga.
Tekanan terhadap Rupiah, lanjut Destry, sebagian besar masih bersumber dari kondisi ekonomi global. Faktor-faktor seperti inflasi yang tak kunjung mencapai target di berbagai negara maju serta ketidakpastian arah suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat, The Fed, menjadi sorotan utama. “Intinya, Bank Indonesia akan selalu tetap berjaga di pasar. Kami diminta juga oleh Bapak Presiden untuk terus melihat dan mengupayakan kebijakan-kebijakan yang kami miliki, baik itu intervensi di spot, DNDF, dan NDF, ataupun dalam bentuk insentif biaya lindung nilai,” tuturnya.
Di ranah domestik, BI juga memberikan perhatian khusus pada pergerakan inflasi. Data menunjukkan bahwa inflasi inti pada September lalu masih terkendali pada level 2,8 persen. Namun, inflasi pangan bergejolak (volatile food) menjadi perhatian dengan angka mencapai 5 persen. Menanggapi hal ini, BI telah berkoordinasi erat dengan Kementerian Pertanian untuk memastikan inflasi pangan dapat kembali ke sasaran yang ditetapkan BI, yakni 2,5 persen plus-minus 1 persen.
Meskipun pasar global masih menunjukkan gejolak, Destry menambahkan bahwa Rupiah relatif stabil dalam beberapa hari terakhir. Pergerakan ini sejalan dengan perlambatan yang juga dialami oleh sejumlah negara pasar berkembang (emerging market) lainnya. Dengan serangkaian langkah proaktif ini, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas Rupiah, baik dari sisi nilai tukar maupun inflasi, sembari tak henti memonitor perkembangan ekonomi global secara cermat.








