PALEMBANG, Sumatera Selatan – Harapan baru menyelimuti langit Sumatera Selatan seiring dengan membaiknya kualitas udara secara signifikan. Intervensi ilmiah melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang menggunakan metode penyemaian dry ice terbukti efektif dalam menekan konsentrasi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang belakangan ini menyelimuti wilayah tersebut.
Kolaborasi strategis antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Tentara Nasional Indonesia (TNI) ini bukan sekadar respons instan, melainkan pendekatan terencana untuk mitigasi bencana asap. Sejak 16 Oktober, operasi ini secara sistematis melepaskan dry ice ke atmosfer, khususnya di area terdampak sekitar Palembang, dengan tujuan utama mengurai asap yang terperangkap pada lapisan inversi.
Thomas Nifinluri, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan, menjelaskan bahwa pendekatan khusus dengan dry ice ditujukan untuk menipiskan asap karhutla. “Bahan semai dry ice bekerja dengan memengaruhi kondisi suhu atmosfer dan membantu mengganggu kestabilan lapisan inversi,” terang Thomas. Lapisan inversi adalah kondisi di mana suhu udara di permukaan lebih dingin daripada di ketinggian, menyebabkan polutan seperti asap terperangkap. Dengan terganggunya lapisan ini, pergerakan udara menjadi lebih baik, dan konsentrasi asap di dekat permukaan berpotensi berkurang drastis.
Hasil awal operasi menunjukkan progres yang menggembirakan. Data BMKG mencatat penurunan drastis konsentrasi Particulate Matter (PM) 2.5, indikator utama kualitas udara. Dari angka 660 mikrogram per meter kubik yang tergolong “berbahaya” pada pagi hari, turun menjadi 208 mikrogram per meter kubik atau kategori “sangat tidak sehat” pada sore hari setelah sorti kedua. Bersamaan dengan itu, jarak pandang (visibilitas) yang semula hanya 300 meter pada pagi hari, melonjak hingga 2.800 meter di sore hari, menandakan dispersi asap yang signifikan.
Operasi yang didanai melalui APBN KLHK ini direncanakan berlangsung hingga 25 Oktober, dengan penerbangan penyemaian yang disesuaikan berdasarkan kondisi atmosfer harian. Pada hari pertama, satu sorti penerbangan membawa sekitar 800 kilogram dry ice, dan direncanakan untuk dua sorti atau lebih pada hari-hari berikutnya, tergantung kebutuhan dan potensi pertumbuhan awan hujan. Fleksibilitas ini juga memungkinkan kombinasi penyemaian dry ice dengan garam (NaCl) jika kondisi atmosfer mendukung pembentukan awan hujan, memaksimalkan potensi pembersihan udara.
Dwi Januanto Nugroho, Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, menegaskan bahwa penanganan karhutla adalah upaya multipihak yang melibatkan TNI-Polri, BNPB, BMKG, BPBD, Manggala Agni KLHK, Masyarakat Peduli Api, serta relawan. “Pelaksanaan OMC dengan penipisan asap ini merupakan salah satu upaya pendukung yang krusial untuk memperbaiki kualitas udara di wilayah terdampak,” pungkas Dwi, menandaskan komitmen berkelanjutan dalam menjaga lingkungan dan kesehatan masyarakat.








