Kabar duka menyelimuti Indonesia. Guruh Soekarnoputra, putra bungsu Proklamator Ir. Soekarno dan adik Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, telah berpulang pada usia 73 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, dan seluruh lapisan masyarakat yang mengenalnya sebagai sosok multitalenta dengan dedikasi tak terbatas.
Sebagai bentuk penghormatan terakhir atas wafatnya tokoh bangsa ini, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan mengeluarkan instruksi kepada seluruh jajarannya, dari pusat hingga tingkat anak ranting, untuk mengibarkan Bendera PDI Perjuangan setengah tiang selama tujuh hari penuh. Langkah ini bukan sekadar protokol organisasi, melainkan simbol duka cita dan penghargaan setinggi-tingginya atas segala kontribusi almarhum yang telah mewarnai panggung seni dan politik nasional.
Berita duka ini dikonfirmasi oleh Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, yang menjelaskan bahwa Guruh Soekarnoputra menghembuskan napas terakhirnya pada Sabtu (26/9) setelah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Siloam Semanggi, Jakarta. Almarhum, yang lahir dengan nama Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra pada 13 Januari 1953, telah menderita sakit selama beberapa waktu sebelum akhirnya dipanggil Tuhan. Kepergiannya menandai akhir dari sebuah perjalanan hidup yang kaya warna dan penuh pengabdian.
Guruh Soekarnoputra tak hanya dikenal sebagai putra sang Proklamator, namun juga sebagai salah satu maestro seni terkemuka Indonesia. Sejak muda, bakat seninya di bidang tari dan musik sudah terlihat menonjol. Ia adalah inisiator dan pendiri grup kesenian legendaris Swara Mahardika dan GSP Production yang melahirkan banyak karya monumental. Bersama musisi-musisi kenamaan seperti Keenan Nasution, Abadi Soesman, dan Chrisye, ia juga membentuk Guruh Gipsy dan Gank Pegangsaan, yang menandai era baru dalam khazanah musik Indonesia dengan sentuhan progresif dan kearifan lokal.
Kiprah Guruh dalam menciptakan lagu-lagu abadi tak terbantahkan. Deretan karyanya seperti “Kala Sang Surya Tenggelam,” “Melati Suci,” “Zamrud Khatulistiwa,” “Lenggang Puspita,” “Mahadaya Cinta,” hingga “Galih dan Ratna” telah menjadi bagian tak terpisahkan dari memori kolektif bangsa, menyuarakan keindahan alam dan nilai-nilai budaya Indonesia dengan lirik yang puitis dan melodi yang memesona.
Selain seni, Guruh juga menunjukkan ketertarikan pada bidang akademik dan politik. Ia menempuh pendidikan di Perguruan Cikini, SMA Negeri 25 Jakarta, lalu mendalami Arkeologi di University of Amsterdam. Kemudian, ia meraih gelar Sarjana Administrasi Publik dari STIAMI pada 2008 dan Magister Manajemen Sumber Daya Manusia pada 2010. Dalam ranah politik, Guruh aktif berkecimpung sejak 1982 dengan bergabung ke PDI, yang kemudian bertransformasi menjadi PDI Perjuangan. Dedikasinya pada partai berlanjut hingga akhir hayatnya, termasuk menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) selama beberapa periode, terakhir dari daerah pemilihan Jawa Timur pada masa jabatan 1999-2024. Perjalanan ini membuktikan komitmennya untuk berbakti kepada negara melalui jalur politik, mewarisi semangat juang sang ayah.
Kepergian Guruh Soekarnoputra adalah kehilangan besar bagi Indonesia. Ia adalah jembatan antara seni yang memukau dan politik yang mencerahkan, seorang pewaris ideologi dan pelestari budaya. Warisan karyanya akan terus hidup, menginspirasi generasi mendatang untuk mencintai seni dan tanah air. Indonesia akan selalu mengenang Guruh Soekarnoputra sebagai sosok yang tak hanya mengukir sejarah melalui darahnya, tetapi juga melalui talenta, dedikasi, dan pengabdiannya yang tulus kepada bangsa. Selamat jalan, Maestro.








