JAKARTA – Perjalanan menuju kemandirian pangan nasional terus diupayakan, salah satunya melalui komoditas strategis bawang putih. Dengan ketergantungan impor yang masih masif, mencapai lebih dari 90 persen dari kebutuhan domestik, upaya percepatan swasembada menjadi sebuah keharusan. Dalam konteks ini, PT Pupuk Indonesia (Persero) tampil sebagai pilar penting, menegaskan komitmennya untuk mendukung target mulia tersebut melalui penyediaan pupuk presisi dan program pendampingan komprehensif.
Langkah strategis ini mencuat dalam sebuah webinar, di mana Pupuk Indonesia menguraikan perannya. Bawang putih, sebagai salah satu dari sepuluh komoditas prioritas yang mendapat alokasi pupuk bersubsidi pemerintah, memang membutuhkan perhatian khusus. Pemupukan, menurut data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), berkontribusi signifikan, sekitar 25 persen terhadap produktivitas tanaman ini.
Robbin Radhian Lee, VP Pengelolaan Pelanggan Pupuk Indonesia, menekankan kesiapan pihaknya berkolaborasi erat dengan Kementerian Pertanian. “Kami siap mendukung percepatan swasembada bawang putih. Komoditas ini tak hanya memiliki potensi ekonomi tinggi dan permintaan pasar yang stabil, tetapi juga krusial bagi ketahanan pangan dan kesejahteraan petani,” ujarnya. Inisiatif Kementan untuk memperluas lahan tanam akan mendapatkan sokongan penuh dari Pupuk Indonesia dalam penyediaan agroinput.
Tantangan terbesar saat ini adalah kesenjangan antara kebutuhan nasional dan kapasitas produksi domestik. Data Kementerian Pertanian memproyeksikan kebutuhan bawang putih nasional pada tahun 2025 mencapai 626.950 ton, namun lebih dari 525.640 ton masih dipenuhi melalui impor. Kondisi ini menjadi motivasi kuat, mengingat Indonesia pernah mencapai swasembada pada era 1990-an, dengan puncak produksi 152.421 ton pada tahun 1995, sebuah capaian yang kini menjadi referensi dan target kembali.
Untuk mengejar target ambisius Menteri Pertanian sebesar 20 ton per hektar dari produktivitas rata-rata saat ini 6,39-8,16 ton per hektar, pemupukan berimbang menjadi kunci. Unsur hara seperti nitrogen, fosfor, kalium, dan sulfur memiliki peran vital pada setiap fase pertumbuhan, mulai dari mendukung vegetatif hingga pembentukan dan pembesaran umbi. Rekomendasi aplikasi total 300 kilogram Urea Nitrea dan 600 kilogram NPK Phonska 15-15-15 per hektar, diberikan secara bertahap, menjadi panduan penting untuk efisiensi penyerapan dan optimalisasi hasil.
Dukungan pemerintah melalui pupuk bersubsidi juga menjadi angin segar bagi petani. Petani yang tergabung dalam kelompok tani dan terdaftar di e-RDKK berhak mengakses pupuk dengan harga terjangkau. Selain itu, Pupuk Indonesia juga menginisiasi Program Makmur, sebuah pendekatan holistik mencakup pendampingan budidaya terintegrasi, akses permodalan, dan pasar, membangun ekosistem hulu-hilir yang kuat untuk komoditas ini.
Proyeksi peningkatan areal tanam bawang putih secara signifikan – dari 5.000 hektar pada 2026 menjadi 120.000 hektar pada 2029 dengan target produksi 630.000 ton – akan diiringi dengan peningkatan kebutuhan pupuk yang masif. Menjawab kebutuhan ini, Pupuk Indonesia tengah membangun pabrik NPK berbasis nitrat berkapasitas 100.000 ton yang dijadwalkan beroperasi pada 2027. Ini adalah investasi nyata dalam memperkuat ketersediaan pupuk demi mewujudkan mimpi swasembada bawang putih nasional.
Muhammad Agung Sanusi, Direktur Pembenihan Hortikultura Kementerian Pertanian, optimistis bahwa dengan dukungan teknologi, benih bermutu, dan kolaborasi multipihak, target produktivitas dan kemandirian bawang putih yang diamanatkan Presiden pada 2026 dapat terwujud. Semangat masa lalu dan proyeksi masa depan menyatu dalam upaya kolosal ini, mengukuhkan fondasi ketahanan pangan Indonesia.








