Beredarnya spekulasi dan narasi konspirasi di media sosial yang mengaitkan fenomena erupsi beruntun sejumlah gunung api di Indonesia dengan rekayasa teknologi dibantah keras oleh akademisi. Pakar Vulkanologi dari Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Agung Harijoko, menegaskan bahwa aktivitas vulkanik tersebut murni merupakan proses geologis alami tanpa campur tangan manusia.
Agung menerangkan bahwa erupsi terjadi akibat dinamika internal bumi, yakni ketika akumulasi tekanan gas dan magma mendesak lapisan batuan hingga keluar menembus rekahan kerak bumi atau kawah kepundan. Menurutnya, klaim mengenai penggunaan senjata frekuensi atau manipulasi teknologi untuk memicu letusan sama sekali tidak berdasar secara ilmiah.
“Tidak ada kaitannya dengan teknologi frekuensi atau sejenisnya. Belum ada bukti apa pun mengenai narasi itu. Saya meyakini ini murni proses geologis dan fenomena alam bebas,” ujar Agung dalam diskusi ilmiah di UGM.
Belakangan ini, publik menyoroti aktifnya enam gunung api dalam waktu yang berdekatan, antara lain Gunung Anak Krakatau, Semeru, Ili Lewotolok, Ibu, Lewotobi Laki-laki, dan Sinabung. Menanggapi hal tersebut, Agung menilai sinkronisasi aktivitas ini hanyalah kebetulan temporal. Pasalnya, setiap gunung memiliki sistem dapur magma mandiri yang terpisah secara fisik dengan jarak ratusan hingga ribuan kilometer, sehingga mustahil satu letusan memicu letusan di gunung lainnya.
Pandangan serupa diungkapkan dosen Fakultas Geografi UGM lainnya, Indranova Suhendro. Ia menjelaskan bahwa setiap gunung berapi memiliki karakteristik serta ritme periode erupsi tersendiri. Fenomena beberapa gunung aktif secara bersamaan lebih tepat diartikan sebagai irisan waktu dari siklus vulkanik yang kebetulan bertemu.
“Ini persoalan timing atau pertemuan siklus aktivitas. Gunung seperti Semeru dan Anak Krakatau memiliki frekuensi letusan tinggi, sementara gunung lain punya masa tenang lebih panjang. Saat siklus mereka bertepatan, tampak seolah-olah terjadi secara bersamaan,” papar Indranova.
Selain itu, mekanisme letusan tiap gunung pun berbeda secara fundamental. Sebagai contoh, erupsi pada Gunung Sinabung dan Semeru kerap dipicu oleh interaksi magma yang memanaskan kantung air bawah tanah (freatik). Sementara itu, letusan Anak Krakatau didominasi oleh magma bertekanan gas pekat yang bersifat eksplosif layaknya semprotan minuman bersoda.
Indranova menambahkan, meski faktor teknologi manusia dapat dipastikan mustahil, faktor alam eksternal seperti guncangan gempa tektonik besar memang berpotensi memengaruhi kantung magma lokal, sebagaimana dampak gempa Flores terhadap aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-laki dan Ile Lewotolok.








