Banten – Misteri hilangnya kontak rombongan jurnalis yang tengah melakukan peliputan di kawasan Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, terus bergulir. Di tengah proses pencarian yang memasuki hari ketiga, sebuah kesaksian krusial datang dari seorang nelayan lokal asal Pantai Carita bernama Supri. Ia mengaku sempat berpapasan dengan speedboat yang membawa para pewarta tersebut sebelum akhirnya mereka dinyatakan hilang misterius.
Supri menceritakan bahwa saat dirinya sedang melaut mencari ikan, kapal yang diduga kuat membawa rombongan jurnalis tersebut melintas di dekatnya. Menurut pengamatannya, kondisi cuaca dan perairan di sekitar lokasi saat itu sebenarnya tergolong normal tanpa tanda-tanda bahaya. Ia hanya mengingat bahwa arah angin bergerak perlahan menuju wilayah selatan atau mengarah ke bagian timur Lampung. Namun, setelah berpapasan, ia kehilangan jejak arah kapal tersebut.
Hingga kini, tim gabungan terus berpacu dengan waktu dalam operasi penyelamatan skala besar. Sebanyak sembilan kapal dikerahkan untuk menyisir perairan Selat Sunda. Upaya pencarian ini diperkuat dengan keterlibatan tiga kapal perang milik TNI Angkatan Laut, yaitu KRI Leuser-924, KRI Kerambit-627, dan KRI Lepu-861, guna mengoptimalkan penyisiran di area yang lebih luas.
Sebanyak 250 personel gabungan kini telah disebar ke lima titik wilayah operasi pencarian yang strategis. Kapolda Banten, Irjen Pol Hengki, mengimbau masyarakat, khususnya para nelayan lokal, untuk segera melapor jika menemukan benda-benda mencurigakan atau puing yang terapung di laut. Informasi sekecil apa pun dinilai sangat berharga untuk mempercepat penemuan para korban.
Peristiwa memilukan ini bermula ketika rombongan yang terdiri dari lima jurnalis, dua awak kapal, dan seorang pemandu, bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, Banten. Mereka berencana meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang sedang meningkat. Namun, sekitar pukul 14.00 WIB, kapal yang mereka tumpangi tiba-tiba hilang kontak dan tidak bisa dihubungi hingga saat ini.








