Kasus dugaan keracunan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa seorang siswi berprestasi asal Kabupaten Karo, Sumatera Utara, terus menyita perhatian publik. Febiona Purba (16), yang sempat dikabarkan mengalami gangguan ingatan pasca-insiden tersebut, kini dilaporkan menunjukkan perkembangan medis yang signifikan. Pihak otoritas terkait memastikan bahwa korban mulai bisa berkomunikasi dengan baik.
Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Medan, Donal Simanjuntak, mengungkapkan bahwa kondisi fisik dan psikologis Febiona terus dipantau secara ketat. Berdasarkan pendampingan langsung di RSUP Adam Malik Medan, Donal menyatakan Febiona sudah mampu mengenali orang-orang di sekitarnya dan menceritakan pengalamannya dengan runtut. Hal ini mematahkan kekhawatiran awal mengenai potensi kerusakan memori jangka panjang.
Kendati demikian, penanganan medis tidak dilakukan setengah-setengah. Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, menegaskan pentingnya pemeriksaan menyeluruh (total check-up) bagi Febiona. Bobby menginstruksikan tim medis untuk tidak hanya fokus pada kesehatan pencernaan, melainkan juga melakukan evaluasi mendalam pada sistem saraf (neurologi) serta kondisi psikologisnya guna mendeteksi adanya trauma pasca-keracunan.
Sebagai langkah konkret, Febiona telah menjalani pemeriksaan Elektroensefalografi (EEG) di RSUP Adam Malik untuk memetakan aktivitas listrik di otaknya. Pemeriksaan ini sangat penting mengingat sebelum dilaporkan mengalami disorientasi ingatan dan kesulitan berbicara, siswi yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua OSIS ini sempat mengalami gejala kejang pasca-perawatan awal.
Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara berkomitmen untuk mengawal proses pemulihan Febiona hingga tuntas. Pihak sekolah juga telah diinstruksikan untuk memberikan kelonggaran akademis dan memfasilitasi kembalinya Febiona ke sekolah tanpa tekanan, mengingat ia merupakan salah satu murid paling cemerlang di kelasnya.
Kasus ini menjadi alarm keras bagi implementasi program Makanan Bergizi Gratis di masa mendatang. Pengawasan kualitas pangan yang ketat mutlak diperlukan agar program yang bertujuan meningkatkan gizi anak bangsa ini tidak justru membahayakan kesehatan para generasi penerus.








