Erupsi beruntun Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak akhir pekan lalu memicu sebaran abu vulkanik yang cukup luas. Menanggapi situasi darurat ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengambil langkah cepat dengan menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah strategis ini difokuskan untuk meminimalisasi dampak paparan abu vulkanik di tiga wilayah utama, yakni DKI Jakarta, Banten, dan Lampung.
Kepala BNPB, Suharyanto, menjelaskan bahwa operasi udara ini dirancang untuk segera membersihkan udara dari partikel abu berbahaya yang mengganggu aktivitas masyarakat. Pihaknya menyiapkan dua skema teknologi modifikasi cuaca yang disesuaikan dengan kondisi atmosfer terkini.
Skema pertama adalah merangsang potensi awan hujan (cloud seeding). “Jika pertumbuhan awan mendukung, kita akan memicu hujan deras agar abu vulkanik yang melayang di langit segera luruh terbawa air ke bumi,” ujar Suharyanto dalam keterangannya.
Namun, tantangan muncul mengingat wilayah terdampak tengah memasuki musim kemarau, yang membatasi pembentukan awan hujan. Mengantisipasi hal itu, BNPB menyiapkan skema kedua berupa teknologi water mist atau penyemprotan kabut air halus tanpa awan. Metode ini dinilai efektif mengikat dan mengurai partikel debu halus di udara agar tidak membahayakan kesehatan pernapasan warga.
Kendala operasional sempat terjadi karena Bandara Pondok Cabe, yang awalnya menjadi basis armada OMC, sempat ditutup sementara akibat paparan abu. Untuk menjaga kelancaran misi, BNPB berkoordinasi dengan BMKG untuk mengalihkan penerbangan modifikasi cuaca ke bandara alternatif yang aman, seperti Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta atau Husein Sastranegara di Bandung.
Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau sendiri terdeteksi bergerak ke dua arah utama. Arah pertama mengarah ke timur laut hingga selatan, menyelimuti sebagian Jawa Barat, Banten, dan Jakarta. Sementara arah kedua bertiup ke barat daya hingga barat laut, mencakup wilayah Lampung dan Bengkulu hingga ke Samudra Hindia.
Melalui respons cepat berbasis teknologi ini, pemerintah berharap kualitas udara di wilayah terdampak dapat segera membaik dan aktivitas transportasi udara maupun darat bisa kembali berjalan normal.








