Dinamika politik internal Partai Ummat kembali menyedot perhatian publik setelah Ridho Rahmadi secara resmi menyatakan mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum. Menantu dari tokoh reformasi, Amien Rais, ini memilih melepaskan kursi kepemimpinan demi kembali ke dunia akademis yang menjadi minat utamanya sejak lama.
Dalam keterangannya, Ridho mengibaratkan pergantian kepemimpinan ini sebagai estafet dalam sebuah perlombaan lari. Baginya, rotasi kepemimpinan adalah hal yang lumrah dalam organisasi modern demi menjaga stamina tim agar tetap prima hingga mencapai garis finis. Pasca-mundur, Ridho akan memfokuskan energinya untuk mengelola Politeknik Artificial Intelligence BMD yang kini memasuki tahun kedua operasionalnya.
Meskipun tidak lagi menjabat sebagai Ketua Umum, Ridho menegaskan komitmennya terhadap partai besutan sang mertua tersebut tidak akan luntur. Sesuai dengan AD/ART partai, ia akan tetap mengabdi sebagai anggota Majelis Syura Partai Ummat. Keputusan besar ini pun telah didiskusikan secara mendalam dan mendapatkan restu penuh dari Amien Rais selaku Ketua Majelis Syura.
Menurut Ridho, Amien Rais tidak hanya merestui langkahnya, tetapi juga menitipkan pesan penting bagi jajaran pengurus baru. Partai Ummat diminta segera melakukan konsolidasi internal yang solid guna mempersiapkan diri secara matang menghadapi kontestasi politik pada Pemilu 2029 mendatang.
Menariknya, pengunduran diri Ridho tidak terjadi sendirian. Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Ummat, Taufik Hidayat, juga turut meletakkan jabatannya karena posisinya merupakan satu paket kepengurusan dengan Ketua Umum. Langkah taktis ini diumumkan pasca Musyawarah Majelis Syura ke-8 yang digelar baru-baru ini.
Untuk mengisi kekosongan kepemimpinan dan menjaga roda organisasi tetap berjalan, Partai Ummat bergerak cepat menetapkan nakhoda baru. Ansufri ID Sambo resmi ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum, didampingi oleh Muhammad Sadiq yang mengemban amanat sebagai Plt Sekjen yang baru.








