Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen Indonesia untuk menjaga kemandirian ekonomi nasional dengan menolak tawaran pinjaman dari Dana Moneter Internasional (IMF). Langkah berani ini diambil karena pemerintah meyakini pembangunan dalam negeri masih bisa berjalan optimal tanpa harus bergantung pada utang dari lembaga keuangan global tersebut.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo saat menghadiri penutupan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Menurut Presiden, tawaran pinjaman tersebut sempat diajukan kepada Menteri Keuangan RI saat melakukan kunjungan kerja ke Washington DC, Amerika Serikat, beberapa waktu lalu.
“Beberapa bulan lalu, Menteri Keuangan kita di Washington DC ditawari pinjaman dari IMF, langsung kita tolak. Terima kasih, tapi Indonesia masih bisa tegak berdiri tanpa pinjaman dari IMF,” ujar Presiden Prabowo di hadapan para peserta Muktamar.
Meskipun menolak utang dari IMF, Presiden menekankan bahwa Indonesia tidak menutup diri dari dunia luar. Pemerintah tetap membuka pintu lebar-lebar bagi investasi asing. Namun, jika dalam kondisi mendesak harus melakukan pinjaman, pemerintah akan sangat selektif dan memprioritaskan opsi pinjaman dengan tingkat bunga yang paling rendah guna menghindari beban fiskal di masa depan.
Fokus utama dari strategi transformasi ekonomi di bawah kepemimpinan Prabowo adalah pengentasan kemiskinan secara masif. Pemerintah menargetkan jutaan warga negara dapat keluar dari garis kemiskinan dalam waktu dekat, dengan fondasi yang mulai diperkuat sejak dua tahun pertama masa jabatan.
Keyakinan ini juga diperkuat oleh kondisi keuangan negara yang sehat. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya telah mengonfirmasi bahwa Indonesia memiliki bantalan fiskal yang sangat memadai, mencapai Rp420 triliun. Cadangan kas yang kuat ini dinilai lebih dari cukup untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global dan ketegangan geopolitik tanpa perlu bantuan dana darurat dari IMF.
Dengan bantalan fiskal yang kokoh ini, Indonesia optimistis mampu menavigasi dinamika pasar global secara mandiri. Langkah penolakan utang IMF ini juga menjadi sinyal kuat bagi investor global bahwa fundamental ekonomi Indonesia kini jauh lebih tangguh dan siap bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi baru tanpa bayang-bayang utang luar negeri yang membebani negara.








