Upaya penyelamatan warisan sejarah Islam Nusantara kini memasuki babak baru lewat pemanfaatan teknologi modern. Sebuah manuskrip Al-Quran bersejarah yang diperkirakan telah berusia 180 tahun asal Aceh kini mulai didigitalisasi. Langkah progresif ini diambil demi menyelamatkan kandungan pengetahuan spiritual dan catatan sejarah penting di dalamnya dari ancaman kerusakan fisik akibat faktor usia.
Mushaf kuno tulisan tangan ini merupakan peninggalan berharga dari ulama besar Aceh masa lalu, Syekh Abdurrahman Lampaloh atau yang juga dikenal sebagai Teungku Chik Lampaloh. Menariknya, manuskrip ini tidak hanya memuat teks suci Al-Quran, melainkan juga dihiasi berbagai catatan pinggir, kolofon, dan anotasi berharga yang merekam dinamika keilmuan serta tradisi Islam pada abad ke-19.
Seiring berjalannya waktu, kondisi fisik kertas manuskrip tersebut mulai melapuk dan tintanya perlahan memudar. Untuk mencegah hilangnya informasi berharga tersebut, Nurrahmi, mahasiswa Program Doktor Studi Islam Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, menginisiasi proyek digitalisasi ini sebagai bagian dari penelitian doktoralnya.
Dalam pelaksanaannya, proyek ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang terbagi dalam tiga tahapan krusial: pra-digitalisasi, digitalisasi, dan pasca-digitalisasi. Proses alih media ini dinilai krusial agar naskah aslinya tidak perlu lagi disentuh secara berulang kali, sehingga kerusakan fisik dapat diminimalisasi secara signifikan.
Kolaborasi riset ini juga melibatkan tokoh akademisi terkemuka seperti Prof. Mujiburrahman dan Prof. Syamsul Rijal. Bahkan, metodologi penyelamatan naskah kuno ini telah dipresentasikan di kancah internasional, tepatnya pada konferensi I-LISS di Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia. Tidak hanya itu, manuskrip bernilai tinggi ini sebelumnya juga sempat menarik perhatian tim peneliti dari Al-Azhar University, Mesir, yang tertarik mendalami aspek parateks naskah tersebut.
Dengan rampungnya proses digitalisasi ini, diharapkan dokumen langka tersebut dapat diakses oleh para peneliti dunia secara virtual. Pola pelestarian berbasis teknologi ini diharapkan menjadi standar baru bagi museum, perpustakaan, dan lembaga kearsipan dalam merawat dokumen bersejarah di Indonesia.








