Kota Palembang, Sumatera Selatan, kembali dilingkupi kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda beberapa wilayah sekitarnya. Berdasarkan pantauan di lapangan, asap tebal tampak menyelimuti sejumlah jalur utama kota, mulai dari Jalan Soekarno-Hatta, Jalan Merdeka, Jalan Kapten A. Rivai, hingga kawasan ikonik Jembatan Ampera. Meskipun jarak pandang dinilai masih relatif aman untuk berkendara, penurunan kualitas udara telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan bagi kesehatan warga setempat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa indeks kualitas udara di Palembang kini berada pada kategori tidak sehat. Data dari Stasiun PM2.5 Musi 2 menunjukkan konsentrasi partikulat halus mencapai angka 69,5 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Mengingat bahaya partikel mikro PM2.5 yang dapat dengan mudah menembus sistem pernapasan, pihak BMKG mengimbau warga untuk membatasi aktivitas di luar ruangan atau mengenakan masker medis pelindung demi menjaga kesehatan paru-paru.
Merespons situasi darurat ini, Pemerintah Kota Palembang bergerak cepat dengan membagikan sekitar 16.000 masker gratis secara bertahap kepada para pengendara dan masyarakat di berbagai titik strategis. Langkah antisipatif juga datang dari Kantor SAR Palembang yang mengeluarkan peringatan keras kepada nakhoda dan pengguna transportasi air di sepanjang Sungai Musi. Terbatasnya jarak pandang akibat kabut asap berpotensi memicu kecelakaan air, terutama pada malam hari, sehingga operator kapal diminta untuk menurunkan kecepatan dan selalu menyalakan lampu navigasi.
Kondisi yang kian mengkhawatirkan ini langsung menarik perhatian serius dari pemerintah pusat. Presiden RI Prabowo Subianto turun langsung ke Palembang untuk memimpin rapat koordinasi darurat penanggulangan karhutla. Rapat krusial ini turut dihadiri oleh jajaran petinggi negara, termasuk Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Mensesneg Prasetyo Hadi, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Sinergi lintas sektoral ini diharapkan mampu mempercepat pemadaman titik api secara efektif agar kualitas udara di Sumatra Selatan kembali normal.








