Ancaman Karhutla Kalimantan: Nestapa Orangutan yang Terusir dari Rumah Sendiri

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali melanda wilayah Kalimantan kini memicu alarm bahaya bagi kelangsungan hidup orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Satwa endemik kebanggaan Indonesia ini kian terdesak seiring menyusutnya ruang hidup mereka akibat kepungan asap dan kobaran api yang terus meluas.

Berdasarkan data historis, populasi primata pintar ini telah merosot tajam hingga 80 persen dalam kurun waktu kurang dari setengah abad. Jika pada tahun 1973 jumlahnya diperkirakan mencapai 288.500 individu, kini hanya tersisa sekitar 57.350 individu yang tersebar di berbagai wilayah Kalimantan dan sebagian Malaysia. Angka ini terbagi ke dalam tiga subspesies, dengan populasi terbesar berada di wilayah Kalimantan Tengah dan Barat (Pongo pygmaeus wurmbii).

Read More

Ancaman karhutla tahun ini kian nyata dengan terdeteksinya 1.487 titik panas (hotspot) di seantero Kalimantan. Kalimantan Tengah menjadi wilayah paling kritis dengan 767 titik panas, disusul Kalimantan Barat dengan 560 titik. Lokasi kebakaran yang kian mendekati habitat inti, seperti Taman Nasional Sebangau, memaksa satwa-satwa ini mencari tempat perlindungan baru.

Namun, ancaman terbesar tidak hanya datang dari jilatan api, melainkan juga paparan asap pekat. CEO Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, Jamartin Sihite, mengungkapkan bahwa kabut asap mengganggu proses penyerbukan tanaman oleh lebah. Akibatnya, pohon-pohon di hutan gagal berbuah, memicu kelangkaan pangan ekstrem bagi orangutan yang bisa berlangsung hingga setengah tahun setelah kebakaran padam.

Kelaparan dan rusaknya habitat memaksa orangutan keluar dari zona nyaman mereka dan menerobos perkebunan serta pemukiman warga, seperti yang terjadi di Kotawaringin Timur. Meski insting penyelamatan diri orangutan cukup kuat untuk menghindari api langsung—berbeda dengan reptil yang banyak ditemukan mati terpanggang—kehilangan rumah hijau mereka adalah vonis mati perlahan jika tidak ada tindakan pemulihan.

Pemerintah bersama berbagai lembaga kini tengah berupaya keras memadamkan api melalui operasi modifikasi cuaca dan taktik water bombing menggunakan puluhan helikopter. Namun, pemulihan jangka panjang tetap menjadi kunci. Jamartin mengingatkan pentingnya reforestasi pasca-bencana, sebab satu pohon yang musnah membutuhkan waktu minimal 15 tahun untuk tumbuh kembali.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *