Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, menunjukkan komitmen nyata dalam merespons cepat penanganan bencana alam di daerah terpencil. Demi menjangkau langsung para korban gempa di Kampung Waso, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Gibran memilih menggunakan sepeda motor untuk menembus jalur ekstrem yang sulit diakses oleh kendaraan roda empat.
Langkah ini diambil guna memastikan bahwa bantuan kemanusiaan serta proses rehabilitasi pascabencana benar-benar tepat sasaran. Lokasi yang dikunjungi Wapres merupakan salah satu titik pengungsian darurat utama yang menampung ratusan warga terdampak gempa bumi hebat yang mengguncang wilayah tersebut.
Setibanya di lokasi pengungsian, Gibran langsung berbaur dan berdialog interaktif dengan warga. Salah satu momen hangat terlihat saat Wapres berbincang dengan seorang pengungsi bernama Aisyah. Gibran secara teliti menanyakan status pendataan rumah warga yang rusak agar bantuan renovasi dari pemerintah pusat dapat segera disalurkan.
“Apakah rumah Ibu sudah didata oleh petugas?” tanya Gibran. Setelah mendapat konfirmasi bahwa proses pendataan telah rampung, ia mengimbau warga untuk bersabar dan tetap bertahan di posko darurat demi keselamatan bersama selama masa pemulihan ini.
Selain memberikan dukungan moral secara langsung, Wapres Gibran menginstruksikan jajaran instansi terkait untuk mempercepat pemulihan infrastruktur vital. Ia menekankan pentingnya pendirian fasilitas kesehatan darurat guna menjamin pelayanan medis bagi para pengungsi tetap berjalan optimal tanpa kendala.
Ia juga menyoroti pentingnya rekonstruksi fasilitas publik yang hancur total akibat bencana. “Pendirian Rumah Sakit Darurat sangat mendesak saat ini. Sektor lain seperti irigasi pertanian yang rusak, tempat ibadah, hingga gedung sekolah yang roboh harus segera dibangun kembali dari nol agar aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat bisa segera pulih,” tegasnya.
Bencana gempa di Kabupaten Manggarai Timur ini memang menyisakan duka mendalam bagi masyarakat setempat. Berdasarkan laporan terkini, bencana ini telah menelan korban jiwa sebanyak 24 orang, sementara lebih dari 19.800 warga terpaksa mengungsi karena kehilangan tempat tinggal. Selain itu, sekitar 9.647 rumah warga dilaporkan rusak parah, berdampingan dengan kerusakan ribuan fasilitas sosial lainnya.








