Benteng Keberanian Anak: Membangun Kepercayaan Melawan Bayang-bayang Kekerasan

Di balik senyum ceria dan tawa riang, tak jarang anak-anak menyimpan beban yang tak terkatakan, terutama ketika mereka menjadi korban kekerasan. Mengapa begitu sulit bagi mereka untuk mengungkapkan pengalaman pahit tersebut? Kunci utamanya terletak pada pembangunan rasa aman dan kepercayaan yang kokoh antara anak dengan orang dewasa di sekitarnya.

Menurut psikolog klinis anak dan remaja, Ocha Ananda Suherik, M.Psi., Psikolog, hubungan yang hangat, responsif, dan penuh rasa aman—atau yang dikenal dalam psikologi perkembangan sebagai secure attachment—merupakan faktor protektif terpenting dalam upaya pencegahan dan penanganan kekerasan. Anak yang merasa didengar, dipercaya, dan terbebas dari penghakiman akan jauh lebih berani untuk berbagi pengalaman traumatis dan mencari pertolongan yang dibutuhkan.

Read More

Namun, realitanya jauh lebih kompleks. Banyak yang keliru mengira bahwa anak yang tidak segera bercerita berarti menyembunyikan kejadian atau tidak ingin ditolong. Padahal, faktor psikologis dan perkembangan anak turut berperan besar. Kemampuan mereka untuk memahami, mengolah, dan menyusun cerita tentang pengalaman traumatis masih dalam tahap berkembang. Tidak jarang, respons otak terhadap ancaman atau kekerasan akan mengaktifkan mekanisme bertahan hidup seperti melawan, menghindari, atau membeku. Bahkan, ada kondisi hypoarousal di mana anak tampak diam dan datar, seolah tidak bereaksi, padahal otaknya sedang berjuang melindungi diri dari ancaman ekstrem. Perubahan perilaku seperti menjadi lebih pendiam, mudah marah, atau menghindari orang tertentu seringkali menjadi satu-satunya sinyal yang mereka tunjukkan.

Lingkungan yang tidak aman semakin memperparah kesulitan ini. Anak mungkin takut ancaman dari pelaku, khawatir tidak akan dipercaya, merasa akan disalahkan, atau bahkan memiliki pengalaman diabaikan saat mencoba bercerita sebelumnya. Kondisi ini menjadi semakin rumit ketika pelaku adalah orang terdekat atau yang seharusnya dipercaya, seperti anggota keluarga atau guru. Anak dapat mengalami konflik batin yang mendalam antara rasa takut dan keinginan untuk mempertahankan hubungan tersebut, membuat mereka memilih diam sebagai pertahanan diri.

Lantas, bagaimana kita bisa membantu? Langkah pertama dan terpenting adalah menjadi orang dewasa yang bisa dipercaya, tempat anak merasa aman untuk bercerita—baik itu orang tua, guru, anggota keluarga, atau psikolog. Setelah anak mendapatkan perlindungan dan dukungan emosional, barulah kasus dapat diteruskan kepada pihak berwenang seperti UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA), kepolisian, atau Lembaga Bantuan Hukum (LBH) jika diperlukan pendampingan hukum.

Data dari Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) tahun 2025 menunjukkan urgensi masalah ini, dengan 35.131 kasus kekerasan tercatat, dan 65,59 persen di antaranya menimpa anak-anak. Angka ini adalah pengingat keras bahwa tanggung jawab melindungi anak bukan hanya milik keluarga atau pemerintah, melainkan tugas kolektif seluruh elemen bangsa.

Sejalan dengan tema Hari Anak Nasional (HAN) 2026, “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”, kita diingatkan untuk meningkatkan kesadaran dalam memenuhi hak anak, melindungi mereka dari kekerasan, dan menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif. Mari bersama-sama menjadi benteng yang kokoh, memberikan ruang aman bagi anak untuk bersuara, dan memastikan masa depan mereka bebas dari bayang-bayang kekerasan.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *