PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK), entitas terafiliasi dengan pengusaha terkemuka Haji Samsudin Andi Arsyad atau dikenal luas sebagai Haji Isam, bersiap melancarkan aksi korporasi jumbo. Perusahaan ini merencanakan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) II atau rights issue, dengan target perolehan dana maksimal mencapai US$463 juta, atau setara dengan Rp8,19 triliun.
Dana masif tersebut akan menjadi tulang punggung bagi PACK untuk mengakuisisi dua entitas strategis di sektor nikel, yaitu PT Bukit Makmur Istindo Nikeltama (Bumanik) dan Denway Development Limited (DDL). Langkah ini mencerminkan ambisi PACK untuk memperkokoh posisi dan kapabilitasnya di industri nikel yang tengah menjadi primadona global.
Berdasarkan keterbukaan informasi perseroan, PACK berencana menerbitkan hingga 100 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp10 per saham. Rencana pelaksanaan rights issue ini masih memerlukan restu dari pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 30 November 2026. Selain itu, keefektifan aksi korporasi ini juga sangat bergantung pada pernyataan pendaftaran dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Salah satu target utama akuisisi adalah Bumanik. PACK, melalui anak usahanya PT Daya Unggul Raya dan PT Gemilang Padma Raya, akan mengakuisisi 100 persen saham Bumanik dengan nilai transaksi sekitar US$79 juta atau Rp1,40 triliun. Bumanik adalah pemain kunci di sektor pertambangan bijih nikel, mengelola wilayah konsesi seluas 4.778 hektare di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, yang dikenal sebagai salah satu sentra nikel terbesar di Indonesia. Akuisisi ini dianggap transaksi material karena nilainya mencapai 26,40 persen dari ekuitas konsolidasi PACK, dengan penilaian yang dinyatakan wajar oleh penilai independen.
Target akuisisi kedua adalah Denway Development Limited (DDL). PACK berencana membeli 100 persen saham DDL dari Hanking (Indonesia) Mining Limited dengan nilai transaksi US$324 juta atau sekitar Rp5,74 triliun. Akuisisi DDL ini tidak hanya material tetapi juga tergolong transaksi afiliasi, mengindikasikan adanya kesamaan pengendali akhir antara penjual dan perseroan, yang seringkali menjadi bagian dari strategi konsolidasi internal untuk efisiensi dan sinergi.
Untuk memastikan penyerapan penuh saham baru dalam rights issue, pemegang saham pengendali PACK, PT Eco Energi Perkasa, telah menyatakan komitmennya sebagai pembeli siaga (standby buyer). Eco Energi Perkasa akan mengambil bagian saham yang tidak diambil oleh pemegang saham lain, dengan jaminan pembelian maksimal mencapai US$418 juta atau sekitar Rp7,40 triliun. Peran ini krusial mengingat adanya potensi dilusi signifikan hingga 74,6 persen bagi pemegang saham yang memilih untuk tidak melaksanakan haknya.
Selain untuk mendanai akuisisi, sisa dana hasil rights issue juga akan dialokasikan untuk pelunasan pinjaman dan sebagai modal kerja bagi perseroan maupun entitas anak. PACK meyakini, langkah strategis ini tidak hanya akan memperkuat struktur permodalan melalui peningkatan ekuitas, tetapi juga secara signifikan meningkatkan kapasitas dan daya saing perseroan di bidang pertambangan mineral, khususnya nikel. Sejalan dengan ekspansi ini, PACK juga akan menambah Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) untuk perdagangan besar bijih dan konsentrat logam serta aktivitas konsultasi manajemen, menandakan visi terintegrasi dari hulu hingga hilir dalam pengelolaan bisnis nikelnya.








