Di tengah kepungan kabut asap yang kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Indonesia, khususnya di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, secercah harapan muncul dari upaya mitigasi yang kini dipercepat. Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, menyatakan keyakinannya bahwa tekanan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta dampak asap di kota tersebut dapat diminimalisir secara signifikan dalam kurun waktu 14 hari hingga satu bulan ke depan. Optimisme ini bukan tanpa dasar, melainkan didasari pada asumsi kuat akan adanya sinergi penuh dari seluruh elemen terkait dalam penanganan di lapangan.
Pernyataan Hanif disampaikan dalam Rapat Koordinasi Penanggulangan Karhutla di Jakarta Barat, yang menggarisbawahi urgensi penanganan komprehensif. Untuk mengakselerasi upaya pemadaman dan pencegahan, sejumlah langkah strategis yang telah berjalan akan digenjot lebih masif. Ini mencakup pembasahan lahan gambut secara intensif, pembangunan dan pengaktifan sumur bor di titik-titik rawan, hingga pemanfaatan larutan surfaktan. Metode-metode ini sangat krusial, mengingat karakteristik lahan gambut yang sangat rentan terbakar dan sulit dipadamkan jika mengering, serta potensi pelepasan emisi karbon yang tinggi.
Fokus penanganan saat ini diarahkan pada dua titik rawan prioritas di Kalimantan Tengah. Pertama, area seluas 39 ribu hektare di Palangka Raya yang secara historis menjadi langganan kebakaran dengan intensitas titik panas (hotspot) yang tinggi. Kawasan ini membutuhkan intervensi mendesak karena kedekatannya dengan permukiman dan infrastruktur penting. Kedua, area konservasi gambut seluas 93 ribu hektare di Kabupaten Pulang Pisau. Kawasan lindung ini vital bagi keseimbangan ekosistem dan memerlukan perlindungan maksimal dari ancaman karhutla yang dapat memicu bencana ekologis lebih luas.
Hanif menegaskan bahwa kedua lokasi ini akan menjadi target utama kerja bersama dalam waktu dekat. Setelah rapat koordinasi, tim gabungan akan segera melakukan verifikasi lapangan untuk menentukan langkah-langkah implementasi yang paling efektif, merujuk pada keberhasilan penanganan serupa di Kalimantan Selatan. Pendekatan ini menunjukkan komitmen untuk tidak hanya memadamkan api, tetapi juga memahami karakteristik lahan dan komunitas untuk solusi jangka panjang.
Kemenko Pangan sendiri ditugaskan untuk mengawal penanganan karhutla di empat provinsi strategis yang menjadi langganan bencana ini: Kalimantan Selatan, Papua Selatan, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Selatan. Pengalaman di Kalimantan Selatan, di mana penanganan telah dimulai sejak Agustus, menjadi model keberhasilan. Melalui kolaborasi erat dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, dan unit usaha setempat, tim berhasil mengendalikan hampir 3 ribu hektare lahan yang terbakar di area yang sangat dekat dengan pusat kota. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa dengan sinergi dan strategi yang tepat, penanganan karhutla yang kompleks dapat dicapai, memberikan optimisme bagi Palangka Raya dan wilayah lainnya yang masih berjuang melawan kepungan asap.








