Banjarmasin — Upaya pencarian dan pertolongan terhadap insiden musibah kapal KM Transport Virgo 8 terus membuahkan perkembangan penting. Tim SAR gabungan berhasil menemukan enam unit perahu karet penyelamat (liferaft) yang diduga kuat milik kapal naas tersebut di kawasan perairan Kalimantan Tengah (Kalteng).
Direktur Operasional Basarnas, Laksma TNI Yudhi Bramantyo, mengonfirmasi bahwa seluruh perahu penyelamat tersebut telah berhasil diamankan oleh personel Kantor SAR (Kansar) Palangkaraya. Saat ditemukan, beberapa unit perahu keselamatan ini terpantau masih dalam kondisi mengembang penuh mengapung di permukaan air.
“Ada temuan enam liferaft di Kalimantan Tengah yang saat ini sudah diamankan oleh rekan-rekan Kansar Palangkaraya. Rencananya, seluruh objek keselamatan ini akan segera dipindahkan ke posko utama yang berpusat di Banjarmasin, Kalimantan Selatan,” ujar Yudhi dalam keterangannya.
Langkah selanjutnya, seluruh barang bukti berupa perahu penyelamat ini bakal diserahkan secara resmi kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Keberadaan liferaft tersebut dinilai sangat krusial guna menunjang proses investigasi mendalam terkait penyebab pasti terbaliknya kapal di perairan Laut Jawa.
Fokus Pencarian dan Rencana Operasi Salvage
Meski puing dan peralatan keselamatan kapal mulai ditemukan, Basarnas mencatat belum ada penambahan korban yang berhasil dievakuasi dalam operasi pencarian harian tersebut. Tim penyelamat terus berpacu dengan waktu untuk menyisir kawasan sekitar demi menemukan puluhan penumpang yang masih hilang.
Sebagai informasi, KM Transport Virgo 8 dilaporkan hilang kontak saat menempuh rute pelayaran dari Surabaya menuju Banjarmasin. Kapal tersebut mengangkut total 243 orang, yang terdiri dari manifes penumpang serta kru kapal. Hingga kini, sebanyak 114 orang telah berhasil diselamatkan, sementara 129 orang lainnya masih dalam status pencarian intensif.
Menanggapi situasi kapal yang saat ini berada dalam posisi terbalik dan mengapung, Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii membeberkan rencana opsi salvage. Skema penanganan ini dilakukan dengan cara membalikkan posisi badan kapal guna mempermudah penyisiran di area dalam ruangan kapal.
Opsi pembalikan lambung kapal ini menjadi strategi prioritas apabila pencarian bawah air (underwater search) tidak memungkinkan akibat kendala cuaca buruk di perairan Laut Jawa. Setelah seluruh area internal kapal dipastikan bersih dan evakuasi tuntas, kapal baru akan ditarik untuk proses penyelidikan hukum lebih lanjut.








