Misteri suara dentuman keras yang sempat mengguncang dan menghebohkan masyarakat di kawasan Bandung Raya, Jawa Barat, akhirnya menemukan titik terang. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengonfirmasi bahwa suara menggelegar beserta getaran tersebut bersumber dari gelombang akustik erupsi Gunung Anak Krakatau yang berada di Selat Sunda.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa kepastian ini didapatkan setelah timnya mencocokkan data sinyal gelombang suara dengan catatan waktu erupsi gunung api tersebut. Fenomena dentuman yang menjangkau radius hingga ratusan kilometer ini dimungkinkan oleh karakteristik gelombang akustik berfrekuensi rendah atau infrasound, yang sangat dipengaruhi oleh kondisi serta dinamika atmosfer saat peristiwa berlangsung.
Gelombang Akustik Berjangkauan Jauh
Menurut Lana, peristiwa perambatan suara erupsi hingga jarak sangat jauh sejatinya bukan hal asing dalam sejarah aktivitas vulkanik di Indonesia. Gelombang infrasound mampu merambat melintasi ruang yang luas sebelum akhirnya dirasakan oleh warga berupa dentuman hingga getaran pada kaca pintu dan jendela rumah.
“Kesesuaian waktu erupsi Gunung Anak Krakatau dengan sinyal pada stasiun pemantauan di Jawa Barat mendukung kuat bahwa fenomena tersebut berasal dari gelombang akustik erupsi,” ujar Lana Saria. Pihaknya juga menegaskan bahwa getaran yang dipicu oleh gelombang udara tersebut aman dan tidak berbahaya bagi struktur bangunan warga.
Perbedaan Analisis dengan BMKG
Temuan yang dirilis Badan Geologi ini memberikan sudut pandang berbeda dari perkiraan awal Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Sebelumnya, Kepala BMKG Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi, sempat menyangsikan letusan Anak Krakatau dapat terdengar hingga ke Bandung Raya mengingat jaraknya yang terbilang jauh.
BMKG sebelumnya mengaitkan dentuman tersebut dengan potensi aktivitas geofisika lokal, seperti fenomena swarm earthquake (rangkaian gempa kecil), pergerakan kawasan karst, maupun gempa akibat runtuhan. Kendati terdapat perbedaan analisis antarlembaga, masyarakat diimbau untuk tidak panik dan tetap tenang menyikapi fenomena alam ini.








