Di tengah pusaran globalisasi yang tak henti mengikis identitas dan nilai-nilai luhur bangsa, penguatan fondasi kebangsaan menjadi sebuah keniscayaan, terutama bagi generasi muda yang akan memegang tongkat estafet kepemimpinan. Kondisi ini sangat terasa di wilayah-wilayah strategis Indonesia, termasuk di pelosok Papua Pegunungan, di mana tantangan perkembangan zaman beriringan dengan kebutuhan akan benteng ideologi yang kokoh.
Menyikapi urgensi tersebut, Anggota Komite III DPD RI, Arianto Kogoya, mengambil langkah proaktif melalui sebuah inisiatif mulia. Bertempat di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, beliau memimpin sosialisasi komprehensif mengenai Empat Pilar MPR RI kepada berbagai organisasi kepemudaan. Kegiatan bertema “Tantangan Kebangsaan di Tengah Arus Globalisasi” ini dihadiri oleh perwakilan Kelompok Cipayung, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), serta sejumlah organisasi kemasyarakatan yang menjadi ujung tombak pergerakan pemuda di wilayah tersebut.
Arianto Kogoya menegaskan bahwa sosialisasi ini bukan sekadar seremoni, melainkan upaya strategis untuk memperkuat pemahaman dan penghayatan nilai-nilai kebangsaan yang terkandung dalam Empat Pilar. “Kami menyelenggarakan kegiatan ini dengan harapan besar agar nilai-nilai kebangsaan yang tertuang dalam Empat Pilar MPR dapat menjadi tameng bagi pemuda Papua Pegunungan dalam menghadapi derasnya arus globalisasi. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa,” ujarnya penuh keyakinan.
Perkembangan globalisasi yang begitu pesat, lanjut Arianto, menuntut setiap individu, khususnya generasi muda, untuk memiliki filter yang kuat. Tanpa pemahaman yang mendalam tentang identitas dan nilai-nilai kebangsaan, risiko terpengaruh oleh hal-hal negatif yang berpotensi merusak sendi-sendi persatuan sangatlah tinggi. Oleh karena itu, penguatan Empat Pilar—yang meliputi Pancasila sebagai dasar negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai konstitusi, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan pemersatu—adalah sebuah keniscayaan.
Pemahaman terhadap empat pilar ini, menurut Arianto, tidak hanya sekadar pengetahuan, tetapi harus menjelma menjadi perilaku dan sikap yang mencerminkan jati diri bangsa. Ini adalah kunci agar generasi muda Papua Pegunungan mampu menempatkan diri dengan tepat di tengah dinamika global, tetap berpegang teguh pada prinsip dan nilai kebangsaan yang telah diwariskan para pendiri bangsa.
Lebih dari itu, Arianto Kogoya juga menaruh harapan besar pada peran aktif kelompok Cipayung, KNPI, dan organisasi kemasyarakatan lainnya. Ia berharap mereka tidak hanya menjadi penerima manfaat sosialisasi, tetapi juga menjadi agen edukasi yang menyebarkan pemahaman nilai-nilai kebangsaan ini kepada masyarakat luas. “Organisasi-organisasi ini seringkali menjadi garda terdepan dalam menyuarakan aspirasi masyarakat, baik di bidang sosial, pendidikan, ekonomi, maupun politik. Maka, penting bagi mereka untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan agar setiap penyampaian aspirasi selalu selaras dengan norma dan nilai yang berlaku di NKRI,” pungkasnya.
Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya sekadar sosialisasi, melainkan sebuah gerakan kolektif untuk membangun ketahanan ideologi dan karakter bangsa dari jantung Papua Pegunungan. Diharapkan, pemuda Papua dapat menjadi pelopor dalam menjaga keutuhan dan kemajuan Indonesia di era globalisasi.








