Semangat gotong royong dan kelestarian budaya kembali membumbung tinggi di Dusun Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Setelah duka mendalam akibat musibah kebakaran yang menghanguskan pemukiman bersejarah tersebut, warga setempat kini mulai melangkah maju. Ditandai dengan ritual adat “Nyemulak” atau penanaman tiang pertama, proses rekonstruksi Kampung Adat Sade dan Masjid Sade resmi dimulai.
Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri, mengungkapkan bahwa momentum pembangunan ini bertepatan dengan bulan suci Maulid Nabi Muhammad SAW, yang diyakini membawa keberkahan tersendiri bagi masyarakat Sasak. Pihaknya juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada para donatur yang telah memberikan dukungan moral maupun material guna memulihkan salah satu destinasi wisata budaya ikonik di Nusa Tenggara Barat (NTB) ini.
Senada dengan hal tersebut, Penjabat Gubernur NTB, Lalu M. Iqbal, menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai autentik dalam proses pembangunan kembali. Menurutnya, daya tarik utama Kampung Sade terletak pada keaslian arsitektur dan nilai sejarah yang melekat kuat di dalamnya. Oleh karena itu, ia mengimbau agar rekonstruksi dilakukan dengan sabar, teliti, serta menghindari ketergesaan agar karakter asli perkampungan suku Sasak tidak hilang.
Untuk menjaga akuntabilitas publik, Gubernur menginstruksikan pembentukan satuan tugas (satgas) khusus serta pembukaan rekening bersama. Langkah ini diambil guna memastikan seluruh aliran bantuan dari berbagai pihak dapat dikelola secara transparan dan tepat sasaran. Selain itu, rencana pembangunan museum semi-permanen juga akan dipercepat agar aktivitas pariwisata dan ekonomi kreatif masyarakat setempat bisa segera bergeliat kembali.
Data dari Koordinator Rekonstruksi, Lalu M. Faozal, mencatat dampak kerusakan yang cukup masif akibat kebakaran lalu. Setidaknya terdapat 75 unit rumah adat, 8 berugak (gazebo), 6 sekenam, 1 masjid, serta 69 unit artshop tempat warga menjajakan kerajinan khas yang harus dibangun ulang. Seluruh pengerjaan akan dilakukan secara bertahap dengan mengutamakan aspek keselamatan dan ketahanan bangunan tanpa mengabaikan aspek estetika tradisional.








