Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hebat tengah melanda wilayah Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah. Berdasarkan laporan terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kobaran api telah menghanguskan sedikitnya 396,13 hektare lahan dan berdampak langsung pada sejumlah keluarga di kawasan tersebut.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengungkapkan bahwa bencana karhutla ini telah berlangsung sejak 18 Juli hingga akhir Agustus 2026. Wilayah sebaran api mencakup tujuh distrik, yaitu Distrik Nabire Kota, Teluk Kimi, Nabire Barat, Wanggar, Nabire, Makimi, hingga Yaur.
Penyebab Karhutla dan Kendala Pemadaman
Menurut analisis BNPB, cuaca ekstrem berupa suhu udara yang sangat panas dikombinasikan dengan hembusan angin kencang menjadi pemicu utama cepatnya perambatan api. Kondisi ini diperparah oleh melimpahnya semak belukar dan ilalang kering yang sangat mudah tersulut.
Hingga saat ini, upaya pemadaman darat masih menemui jalan buntu di beberapa titik. Lokasi kebakaran yang berada di pedalaman dan bermedan ekstrem membuat armada pemadam kebakaran kesulitan menjangkau titik api. Oleh karena itu, pemerintah daerah kini tengah mengupayakan bantuan taktis berupa operasi pemadaman udara atau water bombing.
Ribuan Titik Panas Terdeteksi
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan adanya lonjakan drastis jumlah titik panas (hotspot) di Papua Tengah. Sepanjang pertengahan Agustus 2026 saja, tercatat ada 1.923 titik panas di provinsi tersebut, dengan Kabupaten Nabire sebagai wilayah penyumbang terbanyak mencapai 1.069 titik.
Kepala BMKG Nabire, Husain Kamadi, menjelaskan bahwa fenomena ini dipicu oleh krisis air bersih akibat curah hujan yang sangat minim selama hampir sebulan terakhir. Kondisi kekeringan ekstrem membuat vegetasi menjadi sangat rapuh dan mudah terbakar bahkan hanya karena percikan api kecil.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar guna mencegah situasi karhutla di Papua Tengah semakin memburuk.








