Terkendala Sungai Surut dan Sinyal Hilang, Karhutla Kapuas Masih Sulit Padam

KAPUAS – Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah pedalaman Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, menghadapi jalan buntu yang ekstrem. Memasuki hari kedua sejak pertama kali berkobar pada Jumat (21/8), titik api di Desa Katunjung, Kecamatan Mantangai, dilaporkan masih belum berhasil dijinakkan dan terus meluas.

Kondisi di lapangan kian mengkhawatirkan akibat kepulan asap pekat yang menyelimuti area kebakaran. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kapuas, Pangeran S. Pandiangan, mengungkapkan bahwa kabut asap tebal ini sangat membatasi jarak pandang tim pemadam, sehingga memperlambat proses lokalisir titik api di koordinat -2,2314428, 114.35173405 tersebut.

Read More

Namun, tantangan terbesar yang dihadapi para petugas bukan hanya amukan si jago merah, melainkan rintangan geografis yang luar biasa berat. Akses darat menuju lokasi kebakaran hampir mustahil dilewati, memaksa tim penyelamat beralih menggunakan jalur air.

“Akses darat sangat terbatas. Tim harus berjuang menembus jalur sungai menggunakan perahu ces (perahu motor tradisional). Perjalanan ini sangat bergantung pada pasang surut air sungai. Kami harus berpacu dengan waktu sebelum air surut dan perahu kandas,” jelas Pangeran.

Tak hanya kendala fisik, isolasi komunikasi juga menjadi momok di lokasi karhutla. Hilangnya sinyal seluler di area pedalaman menyulitkan koordinasi darurat antara petugas di lapangan dengan pusat komando. Di tengah keterbatasan itu, tim pemadam yang berkekuatan sembilan personel—terdiri dari tiga anggota KPHL Kapuas Kahayan dan enam relawan Masyarakat Peduli Api (MPA)—terus berjibaku memadamkan bara api.

Hingga kini, status kebakaran di titik kedua Katunjung ini masih dinyatakan belum terkendali. Mengingat api yang terus menjalar dan medan yang sulit ditembus, Pusdalops BPBD Kapuas terus berupaya memantau pergerakan tim posko terdepan guna memastikan keselamatan personel sembari mencari strategi alternatif penanganan.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *