Mukjizat Dekapan Cinta: Sitti Amang Bertahan 4 Hari di Laut Selayar Pasca Karam KM Nurul Salsa

Kisah ini adalah epitomisasi dari ketahanan manusia dan kekuatan cinta yang tak terbatas, terukir di ganasnya perairan barat Pulau Polassi, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Bagi Sitti Amang (47) dan suaminya, Andi Samad, batas antara hidup dan mati selama empat hari tiga malam hanyalah selembar gabus rapuh dan eratnya dekapan setia sang suami di tengah samudra.

Rabu, 15 Juli, menjadi titik balik tragis bagi puluhan penumpang KM Nurul Salsa. Kapal yang membawa harapan dan impian mereka mendadak kehilangan keseimbangan, lalu perlahan ditelan ombak yang tak kenal ampun. Kepanikan merajalela, namun demi secercah harapan, Sitti harus mengambil keputusan pahit: meninggalkan kapal yang mulai karam.

Read More

“Kapal sudah miring waktu saya turun,” kenang Sitti dengan sorot mata menerawang, kini terbaring lemah di ranjang perawatan RSUD KH Hayyung Selayar. Bersama Andi dan belasan penumpang lainnya, mereka terpaksa menyerahkan diri pada belas kasihan lautan, hanya berbekal selembar gabus penangkap ikan yang tak seberapa.

Di atas tumpuan asa yang genting itu, pertarungan sengit antara hidup dan mati dimulai. Selama lebih dari 90 jam, mereka terombang-ambing tanpa arah, dihantam gelombang, dan disiksa oleh terik matahari serta dinginnya malam. Dari sembilan orang yang awalnya berpegangan pada gabus tersebut, hanya lima yang tersisa, termasuk Sitti dan kerabatnya, Diska Yanti. Empat lainnya menyerah pada kejamnya alam.

“Empat hari kami tidak makan, tidak minum. Tidak pernah tidur, kedinginan terus. Malam menggigil,” ujarnya, menggambarkan kengerian perut kosong dan tenggorokan kering kerontang. Namun, ancaman terbesar bagi Sitti bukan hanya lautan, melainkan ketidakmampuannya berenang. Setiap hembusan ombak adalah potensi maut yang siap menyeretnya ke kedalaman.

Di sinilah peran Andi Samad menjadi kunci. Dengan sisa tenaga yang terus terkuras, Andi tak henti mendekap istrinya dari belakang, menjadi jangkar yang tak tergoyahkan. “Kalau tidak ada suami, mungkin saya sudah jatuh. Saya di bagian depan, suami di belakang terus pegang saya. Karena saya tidak bisa berenang,” tutur Sitti, menggarisbawahi kekuatan cinta dan pengorbanan suaminya.

Di tengah keputusasaan yang memuncak, harapan kecil sesekali muncul saat malam tiba. Kilatan lampu dari kapal-kapal yang melintas di kejauhan menjadi pemicu insting bertahan hidup mereka. Dengan sisa-sisa tenaga, tangan-tangan lemah itu berusaha mendayung air, “Kalau malam ada cahaya lampu kapal, kami berusaha ke sana… kami tetap berusaha ke sana,” jelas Sitti, menggambarkan tekad mereka yang tak kenal menyerah.

Perjuangan tanpa henti, penahanan rasa lapar dan haus yang menyiksa, serta ikatan cinta yang menguatkan, akhirnya membuahkan hasil. Pada Sabtu (18/7), sebuah kapal nelayan yang kebetulan melintas berhasil melihat lambaian tangan putus asa para korban. Sitti Amang, Andi Samad, dan tiga penumpang lainnya akhirnya diselamatkan dari pelukan maut lautan Selayar, dibawa ke daratan untuk mendapatkan perawatan medis.

Tragedi KM Nurul Salsa ini menyisakan duka mendalam. Hingga hari kedelapan operasi pencarian, dari total 78 orang di atas kapal, 59 orang ditemukan selamat, 3 meninggal dunia, dan 16 lainnya masih dalam pencarian. Kisah Sitti dan Andi menjadi bukti nyata bahwa di tengah badai kehidupan, cinta sejati bisa menjadi mukjizat yang menyelamatkan nyawa.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *