Sebuah insiden penerbangan yang menyita perhatian terjadi di Kalimantan Selatan ketika helikopter jenis Super Puma VH-HGM yang disewa oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) jatuh di perairan Sungai Barito. Peristiwa ini, yang berlangsung pada Minggu (8/11) sekitar pukul 11.58 WITA di wilayah Desa Tabatan, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Barito Kuala, beruntungnya tidak menimbulkan korban jiwa fatal, dengan ketiga kru dilaporkan selamat dan telah berhasil dievakuasi.
Kabar mengenai kecelakaan udara ini dikonfirmasi oleh Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan. Menurut Berton, respons cepat pasca-insiden memungkinkan evakuasi segera terhadap para kru serta unit helikopter ke tepi sungai. Ini adalah kabar melegakan mengingat potensi bahaya yang melekat pada setiap kecelakaan pesawat terbang, terutama di medan perairan.
Tiga awak yang menjadi korban dalam insiden ini adalah Michael John Betteridge, seorang warga negara Australia; Hugh Andrew John, warga negara Selandia Baru; dan Yayan, seorang warga negara Indonesia. Keberhasilan evakuasi mereka menjadi prioritas utama dan merupakan hasil dari koordinasi cepat antara berbagai pihak terkait di lapangan. Kondisi mereka yang selamat menjadi titik terang di tengah keprihatinan atas insiden tersebut.
Helikopter Super Puma ini, yang dioperasikan di bawah kontrak sewa oleh BNPB, memiliki peran vital dalam mendukung berbagai operasi penanggulangan bencana di Indonesia, termasuk mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap melanda wilayah Kalimantan. Meskipun demikian, Berton Panjaitan belum dapat memastikan apakah helikopter tersebut sedang dalam misi pengambilan air untuk pemadaman karhutla saat insiden terjadi. Fokus saat ini lebih kepada proses investigasi menyeluruh untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan.
Insiden ini kembali menyoroti tantangan dan risiko yang dihadapi oleh para petugas serta aset udara dalam menjalankan misi kemanusiaan dan penanggulangan bencana. Operasi di wilayah yang luas dan seringkali sulit dijangkau seperti Kalimantan, dengan kondisi geografis dan cuaca yang dinamis, menuntut standar keselamatan dan kesiapan operasional yang sangat tinggi. Investigasi mendalam diharapkan dapat memberikan pelajaran berharga untuk peningkatan protokol keselamatan penerbangan dalam operasi penanggulangan bencana di masa mendatang.
Pihak berwenang, termasuk Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan otoritas penerbangan terkait, diharapkan segera turun tangan untuk melakukan analisis komprehensif. Tujuan utamanya adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap jatuhnya helikopter. Hasil investigasi ini akan krusial tidak hanya untuk pertanggungjawaban tetapi juga untuk mencegah terulangnya insiden serupa, demi menjaga keselamatan para pahlawan di garis depan penanggulangan bencana.

