Gunung Semeru, mahakarya alam di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik signifikan. Sabtu dini hari, sang gunung meluncurkan awan panas guguran (APG) sejauh 5,5 kilometer menuju tenggara, mengarah ke Besuk Kobokan. Peristiwa ini menjadi pengingat akan status “Siaga” (Level III) yang disandangnya, menuntut kewaspadaan tinggi dari masyarakat sekitar dan pihak berwenang.
Laporan dari pos pengamatan Gunung Semeru mencatat erupsi terjadi tepat pukul 00.11 WIB. Kolom letusan abu vulkanik membumbung tinggi sekitar satu kilometer di atas puncak kawah, yang berada pada ketinggian 4.676 meter di atas permukaan laut. Aktivitas yang berlangsung sekitar enam menit ini terekam jelas pada seismogram dengan amplitudo maksimum 33 milimeter. Awan abu yang pekat dan kelabu teramati condong ke arah selatan dan barat daya, menyiratkan sebaran material vulkanik ke wilayah tersebut. Ini merupakan lanjutan dari erupsi sebelumnya pada Jumat sore, yang juga meluncurkan awan panas guguran sejauh lima kilometer ke arah Besuk Kobokan.
Kendati demikian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang memastikan bahwa serangkaian erupsi dan luncuran awan panas guguran ini tidak sampai menimbulkan dampak signifikan terhadap aktivitas sehari-hari warga di lereng Semeru. Kepala Pelaksana BPBD Lumajang menjelaskan bahwa zona merah rawan bencana erupsi telah disterilkan dari aktivitas masyarakat, sehingga potensi risiko terhadap penduduk dapat diminimalisir secara efektif.
Status Siaga (Level III) yang diberlakukan membawa sejumlah imbauan krusial. Warga dan pengunjung dilarang keras beraktivitas dalam radius 13 kilometer dari puncak gunung, khususnya di sepanjang aliran Besuk Kobokan. Selain itu, radius 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan juga menjadi area terlarang, mengingat potensi luncuran awan panas dan aliran lahar yang bisa mencapai jarak 17 kilometer dari puncak. Larangan beraktivitas juga berlaku dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak gunung, area yang sangat rentan terhadap bahaya lontaran batu pijar.
Tim Reaksi Cepat BPBD bersama aparat TNI dan Polri terus bersiaga penuh di pos-pos pantau seperti Curah Kobokan dan Oro-Oro Ombo. Mereka secara intensif memonitor perkembangan aktivitas vulkanik guna mengantisipasi setiap perubahan kondisi. Masyarakat diimbau untuk selalu mewaspadai dampak susulan seperti luncuran awan panas, guguran lava, dan aliran lahar dingin, terutama di sepanjang lembah dan aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru, mencakup Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta anak-anak sungai Besuk Kobokan.
Gunung Semeru, atau kerap disebut Mahameru, merupakan salah satu gunung berapi teraktif di Indonesia. Riwayat erupsinya yang kerap kali masif menempatkannya pada daftar gunung yang memerlukan pengawasan ekstra. Kesadaran dan kepatuhan masyarakat terhadap peringatan dini serta rekomendasi dari pihak berwenang menjadi kunci utama dalam memitigasi risiko bencana. Dengan demikian, kehidupan di sekitar kaki gunung dapat berjalan berdampingan dengan potensi alam yang terkandung di dalamnya, namun tetap dengan kewaspadaan yang tinggi.
