Jakarta, KotaKita – Di tengah arus deras informasi digital yang kerap disusupi misinformasi dan hoaks, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengambil langkah proaktif. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, baru-baru ini secara resmi mengukuhkan dua pelajar SMA sebagai Duta Antihoaks Jakarta 2026. Penunjukan ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah deklarasi serius untuk memperkuat literasi digital di kalangan generasi muda, yang dipandang sebagai garda terdepan dalam memerangi penyebaran informasi palsu.
Acara pengukuhan yang khidmat berlangsung di Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta. Dua sosok muda yang terpilih adalah Winda dari SMAN 68 Jakarta dan Muhammad Ibrahim Gumay dari SMAN 71 Jakarta, berhasil menyingkirkan ratusan peserta dari 119 SMA negeri di ibu kota melalui seleksi ketat. Peran mereka strategis: menjadi katalisator bagi teman sebaya untuk berpikir kritis, memverifikasi informasi, dan menyebarkan konten yang bertanggung jawab di ruang digital.
Gubernur Pramono Anung menekankan urgensi pelibatan kaum muda dalam gerakan antihoaks, menyoroti kedekatan generasi ini dengan media sosial dan ekosistem digital sebagai pedang bermata dua. “Anak-anak muda adalah bagian tak terpisahkan dari lanskap digital. Tantangan kita kini bukan hanya akses teknologi, melainkan kemampuan untuk memilah kebenaran di tengah lautan informasi. Ini tentang membangun daya kritis mereka terhadap realitas digital,” tegas Pramono, seraya mendorong mereka menjadi agen perubahan perilaku digital yang positif.
Meskipun Jakarta meraih predikat tertinggi nasional dalam Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025 dengan skor 56,97, Gubernur mengingatkan agar tidak lengah. Kemampuan masyarakat dalam mengidentifikasi dan menangkal hoaks harus terus ditingkatkan. Dalam konteks ini, Pemprov DKI Jakarta telah menyediakan layanan Jalahoaks, sebuah platform verifikasi fakta yang dapat dimanfaatkan warga untuk memeriksa keabsahan informasi sebelum mempercayai atau membagikannya. “Jangan biarkan informasi tak terverifikasi menimbulkan keresahan di masyarakat,” imbaunya.
Pramono berharap para Duta Antihoaks 2026 menjelma menjadi penggerak sejati literasi digital. Mereka diharapkan mampu menginspirasi lingkungan sekolah dan komunitas untuk mengadopsi kebiasaan bermedia sosial yang cerdas dan bertanggung jawab. Misi mereka diperluas, bukan hanya menangkal hoaks, tetapi juga memanfaatkan kreativitas digital untuk mempromosikan Jakarta, khususnya menjelang usia ke-500 pada 2027.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) DKI Jakarta, Marulina Dewi, menambahkan bahwa program ini melewati seleksi komprehensif, dari administrasi, pelatihan, hingga pengembangan proyek kampanye literasi digital. “Generasi muda memiliki peran strategis sebagai konsumen, produsen, dan pembentuk opini. Program ini dirancang agar mereka menjadi motor penggerak perubahan perilaku digital,” jelas Marulina.
Selama satu tahun ke depan, kedua duta ini akan aktif dalam program edukasi interaktif di berbagai sekolah, berkolaborasi dengan Diskominfotik DKI Jakarta dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI. Agenda mereka mencakup kampanye digital bulanan, pembentukan agen antihoaks di sekolah, serta edukasi berbasis isu-isu aktual Jakarta, membentuk ekosistem digital yang sehat dan berintegritas.
