Pemilihan umum Israel kembali menorehkan dinamika politik yang tajam, meninggalkan jejak kekecewaan bagi sebagian pihak dan membuka babak baru negosiasi koalisi yang rumit. Salah satu sorotan utama jatuh pada Menteri Keamanan Nasional, Itamar Ben Gvir, dan partai sayap kanannya, Otzma Yehudit, yang harus menelan pil pahit setelah gagal mencapai target ambisius mereka dalam perolehan kursi parlemen.
Hasil sementara dan proyeksi exit poll dari beberapa saluran berita terkemuka Israel menunjukkan bahwa Otzma Yehudit hanya berhasil mengamankan sekitar enam kursi. Angka ini jauh di bawah ekspektasi Ben Gvir yang menargetkan perolehan dua digit kursi. Harapan untuk mengukir sejarah sebagai kekuatan sayap kanan yang berdiri sendiri dengan capaian signifikan tampaknya belum terwujud dalam kontestasi kali ini. Kekalahan ini menjadi pukulan telak, mengingat Ben Gvir sebelumnya pernah menyatakan keyakinannya untuk meraih jumlah kursi yang setara atau bahkan melampaui 14 kursi, seperti yang dicapai pada pemilu sebelumnya saat berkoalisi.
Menanggapi hasil awal yang kurang memuaskan, Ben Gvir terlihat berupaya menenangkan para pendukungnya. Saat tiba di markas Otzma Yehudit sesaat sebelum tengah malam, ia memilih untuk tidak langsung mengomentari hasil exit poll. Namun, di hadapan massa yang antusias, ia menyuarakan keyakinannya bahwa perhitungan suara akhir masih dapat berubah. “Malam ini masih panjang,” ujarnya penuh harap. “Kami percaya dan berharap bahwa kami akan segera membentuk pemerintahan sayap kanan, dengan pertolongan Tuhan.” Pernyataan ini mencerminkan semangat juang namun juga menyiratkan tantangan berat yang harus dihadapi di panggung politik Israel.
Perbedaan signifikan dalam perolehan suara ini juga mencerminkan perubahan strategi Otzma Yehudit. Pada pemilihan parlemen sebelumnya, partai ini maju bersama Partai Religious Zionism pimpinan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, sebuah aliansi yang terbukti efektif dengan raihan total 14 kursi. Namun, dalam pemilu kali ini, Ben Gvir memutuskan untuk mengambil jalan sendiri, sebuah langkah yang tampaknya tidak membuahkan hasil optimal seperti yang diharapkan. Keputusan ini kini menjadi bahan evaluasi mendalam mengenai efektivitas strategi politik Ben Gvir yang mengandalkan kekuatan tunggal.
Di tengah ketidakpastian hasil, isu koalisi pasca-pemilu menjadi sangat krusial. Ben Gvir dengan tegas menolak gagasan untuk bergabung dengan partai oposisi yang dipimpin oleh mantan panglima militer Gadi Eisenkot. Ia menyebut prospek pemerintahan semacam itu sebagai “pemerintahan yang lumpuh” dan menegaskan tidak ada kemungkinan kerja sama. “Hanya dua menit setelah exit poll dirilis, kita sudah mendengar pembicaraan mengenai pemerintahan persatuan dengan Eisenkot. Pemerintahan seperti itu cuma akan berujung pada kelumpuhan,” tegasnya, menunjukkan garis batas ideologi yang kuat.
Meskipun demikian, masa depan politik Israel masih penuh dengan negosiasi dan kemungkinan. Partai Otzma Yehudit secara tradisional merupakan mitra dekat Partai Likud pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Walaupun belum ada pembicaraan langsung mengenai koalisi pasca-pemilu antara kedua belah pihak, kemungkinan aliansi ini tetap menjadi skenario yang paling realistis. Peran Ben Gvir dalam membentuk pemerintahan sayap kanan di bawah kepemimpinan Netanyahu akan sangat menentukan arah kebijakan Israel ke depan, terutama di sektor keamanan dan isu-isu nasionalis yang menjadi platform utama partainya.

