Site icon Media KotaKita

Transformasi Ekonomi Petani Singkong: Harga Melonjak, Peluang Ekspor Mocaf Terbentang Luas

Jakarta, KotaKita.com – Sebuah angin segar tengah berembus di sektor pertanian Indonesia, khususnya bagi para petani singkong. Setelah sekian lama terpuruk akibat anjloknya harga, kini komoditas ubi kayu ini kembali bergairah, mencatat kenaikan signifikan yang memantik optimisme di kalangan petani. Fenomena ini tidak lepas dari langkah strategis pemerintah yang memutuskan untuk menghentikan keran impor singkong, sebuah kebijakan tegas yang langsung membuahkan hasil nyata di lapangan.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam sebuah Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Pangan di Jakarta pada Senin lalu, mengungkapkan kabar baik ini. Harga singkong yang sebelumnya merana di kisaran Rp700 per kilogram, kini melesat hingga mencapai angka Rp3.000 per kilogram. Kenaikan drastis ini, menurut Amran, adalah respons langsung dari kebijakan penghentian impor yang diinisiasi setelah adanya laporan tentang penderitaan petani akibat harga yang tidak lagi ekonomis.

Keputusan untuk menghentikan impor, sebagaimana ditegaskan oleh Menteri Amran mengutip arahan Presiden Prabowo Subianto, bertujuan utama melindungi petani dalam negeri. Dengan berkurangnya suplai dari luar, ruang pasar bagi produk lokal terbuka lebih lebar, menciptakan keseimbangan baru yang menguntungkan produsen domestik. Laporan dari berbagai sentra produksi, termasuk Lampung yang merupakan salah satu lumbung singkong nasional, mengamini tren positif ini. Di Pringsewu, misalnya, harga bahkan menyentuh Rp3.050 per kilogram, disambut gembira oleh para petani yang selama ini berjuang.

Namun, kenaikan harga hanyalah langkah awal. Pemerintah ‘KotaKita’ kini menatap lebih jauh dengan mendorong hilirisasi singkong melalui pengembangan dan ekspor tepung mocaf (modified cassava flour). Mocaf, sebagai produk olahan singkong yang dimodifikasi, menawarkan nilai tambah yang jauh lebih tinggi dibandingkan menjual singkong mentah. Langkah ini bukan sekadar upaya peningkatan nilai jual, melainkan bagian integral dari strategi besar untuk memperkuat rantai nilai pertanian nasional, membuka akses pasar global, dan menciptakan stabilitas ekonomi yang berkelanjutan bagi petani.

Ekspor mocaf yang diharapkan dapat terealisasi dalam waktu dekat ini, mencerminkan pergeseran paradigma dari ketergantungan impor menjadi produsen dan eksportir. Pengembangan industri mocaf juga memiliki potensi besar untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi di daerah sentra produksi. Peningkatan permintaan bahan baku lokal akan mendorong produktivitas petani, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat hubungan sinergis antara petani, industri pengolahan, dan pasar internasional.

Keberlanjutan inisiatif ini tentu membutuhkan dukungan berkelanjutan, termasuk pasokan bahan baku yang stabil, standar mutu produk yang kompetitif, serta kapasitas produksi yang memadai. Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, petani, dan pelaku industri, momentum kenaikan harga singkong ini dapat menjadi fondasi kokoh bagi transformasi pertanian Indonesia menuju kemandirian dan daya saing global.

Exit mobile version