Site icon Media KotaKita

Napas Terakhir Raksasa Rimba: Menelisik Dedikasi di Pusat Konservasi Gajah Aek Nauli

Di tengah riuhnya lanskap Sumatera Utara, sebuah benteng harapan berdiri kokoh bagi populasi Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang kian terancam. Adalah Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC), yang berlokasi strategis di Desa Sibaganding, Kabupaten Simalungun, menjadi saksi bisu upaya tanpa henti dalam merawat dan merehabilitasi raksasa berbelalai ini.

Setiap pagi, sebelum mentari benar-benar meninggi, kesibukan sudah menyelimuti ANECC. Para mahout, atau pawang gajah, dengan sigap memulai rutinitas harian mereka. Setelah sarapan pagi, mereka akan memimpin ketujuh gajah Sumatra, yang sebagian besar memiliki riwayat konflik dengan manusia, menuju area penggembalaan di hutan sekitar. Di sinilah gajah-gajah tersebut menghabiskan waktu berjam-jam, menjelajahi vegetasi alami yang menjadi sumber pakan utama mereka, di bawah pengawasan ketat para mahout yang memahami setiap lekuk medan hutan.

Boby Natalisus Purba, Kepala Resor ANECC sekaligus Cagar Alam Batu Gajah, menjelaskan bahwa tujuh gajah yang mereka rawat terdiri dari lima betina dan dua jantan, dengan rentang usia 20 hingga 47 tahun. Masing-masing memiliki kisah dan karakter unik. Sebut saja Luis Figo, gajah jantan berusia 20 tahun yang merupakan hasil pengembangbiakan, atau Siti dan Ester Juwita, dua betina senior dengan bobot lebih dari dua ton yang datang dari Sumatera Selatan setelah insiden konflik. Perawatan mereka tak hanya sebatas pemberian makan, melainkan juga pemantauan kesehatan yang ketat, termasuk penimbangan berat badan rutin setiap tanggal 26 setiap bulan, sebagai indikator vital kondisi fisik dan nutrisi.

Kebutuhan pakan gajah yang mencapai sekitar 10 persen dari berat badannya per hari menjadi tantangan tersendiri. Ini berarti seekor gajah dewasa dapat membutuhkan hingga 200 kilogram pakan. Oleh karena itu, selain pakan alami dari hutan, gajah-gajah di ANECC juga mendapatkan pakan tambahan berupa rumput gajah, pelepah sawit, dan aneka buah-buahan seperti pisang, nanas, dan semangka. Sumber pakan yang melimpah ini krusial untuk memastikan kecukupan nutrisi, terutama mengingat topografi Aek Nauli yang menantang dengan sebagian besar medan yang curam, membatasi area penggembalaan yang aman.

Kerja sama lintas sektor menjadi kunci keberhasilan ANECC. Sejak tahun 2018, dukungan signifikan datang dari Pertamina Patra Niaga melalui Fuel Terminal Pematangsiantar. Bantuan yang diberikan sangat beragam, mulai dari pengembangan lahan rumput gajah, fasilitas timbangan, alat komunikasi, hingga suplai vitamin dan air. Dukungan ini tidak hanya meringankan beban operasional ANECC, tetapi juga memperkuat infrastruktur perawatan dan pemantauan kesehatan gajah secara berkala, yang sebelumnya sulit dilakukan tanpa fasilitas yang memadai.

Di samping peran konservasi, ANECC juga membuka diri sebagai pusat edukasi, terutama bagi pelajar yang ingin memahami lebih dalam tentang gajah dan pelestarian alam. Kunjungan edukatif ini memungkinkan masyarakat untuk berinteraksi langsung dengan gajah, menyaksikan rutinitas perawatan, dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati. Seperti yang diungkapkan Aidil Adha Rahab, salah satu mahout senior, ikatan batin antara mahout dan gajah terbangun melalui interaksi harian, kesabaran, dan pemahaman akan karakter unik setiap satwa. Kisah-kisah personal seperti saat Pini Elpionita ‘merajuk’ karena Aidil tidak membawa buah, menggambarkan kedalaman hubungan yang terjalin.

Di ANECC, konservasi bukan sekadar tugas, melainkan sebuah panggilan. Dengan dedikasi para mahout, dukungan mitra, dan pemahaman akan kompleksitas perawatan satwa, Aek Nauli terus berjuang menjaga napas terakhir para raksasa rimba, memastikan mereka memiliki masa depan di tengah hutan Sumatera yang terus menipis.

Exit mobile version