Purwakarta, KotaKita – Perum Jasa Tirta II (PJT II), Badan Usaha Milik Negara yang mengelola sumber daya air, semakin menunjukkan komitmennya dalam mempercepat transisi energi nasional. Melalui inovasi pemanfaatan area genangan waduk, PJT II akan segera memulai proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung berkapasitas 100 megawatt (MW) di Waduk Jatigede, Sumedang, Jawa Barat. Langkah ambisius ini menjadi tonggak penting dalam upaya Indonesia menuju kemandirian energi bersih.
Direktur Utama PJT II, Imam Santoso, mengungkapkan bahwa proyek PLTS terapung di Waduk Jatigede sudah memasuki tahap krusial dan siap untuk digarap. Sementara itu, rencana serupa untuk Waduk Jatiluhur di Purwakarta, yang direncanakan berkapasitas 80 MW, masih dalam fase studi kelayakan. “Proyek di Jatigede dengan kapasitas 100 MW akan segera dimulai. Untuk Jatiluhur, kami masih dalam proses studi kelayakan mendalam,” jelas Imam, menandakan progres berbeda namun sama-sama strategis bagi kedua inisiatif tersebut.
Pengembangan PLTS terapung ini merupakan bagian integral dari strategi jangka panjang PJT II untuk mengoptimalkan aset-aset waduk di bawah pengelolaannya sebagai pusat produksi energi terbarukan. Potensi yang diidentifikasi PJT II sangatlah masif, mencapai 2,8 gigawatt peak (GWp) untuk PLTS terapung di berbagai waduk dalam lingkup kerjanya. Angka ini, menurut Imam, adalah potensi keseluruhan yang memerlukan perencanaan matang dan bertahap untuk direalisasikan.
Tak berhenti pada dua lokasi utama, PJT II juga telah memetakan lima waduk lain yang akan mulai dijajaki potensinya untuk pengembangan PLTS terapung pada tahun 2027. Lokasi-lokasi tersebut meliputi Waduk Batutegi, Sindangheula, Karian, Cipanas, dan Kuningan. Dengan demikian, total tujuh lokasi strategis tengah dalam pertimbangan PJT II untuk menjadi lumbung energi surya terapung di masa depan, masing-masing dengan tahapan persiapan yang berbeda sesuai karakteristik dan kelayakan teknisnya.
Selain potensi surya, PJT II juga melihat peluang besar dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) berbasis pumped storage, dengan kapasitas yang diproyeksikan mencapai 760 MW. Teknologi ini memungkinkan penyimpanan energi yang efisien melalui pemompaan air, melengkapi portofolio energi terbarukan PJT II yang saat ini sudah mengelola PLTA Ir H Djuanda di Waduk Jatiluhur dengan kapasitas terpasang 187,5 MW, yang menyalurkan listrik ke PLN dan sektor industri.
Langkah PJT II ini sejalan dengan regulasi pemerintah yang mendukung pemanfaatan ruang genangan waduk untuk PLTS terapung, seperti termaktub dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 7 Tahun 2023. Komitmen ini juga selaras dengan agenda nasional untuk memperkuat kemandirian dan ketahanan energi melalui bauran energi bersih. Kontribusi PJT II melalui pengembangan PLTS terapung ini diharapkan mampu memberikan dorongan signifikan terhadap pencapaian target energi terbarukan Indonesia, memastikan pasokan listrik yang berkelanjutan dan ramah lingkungan bagi masyarakat dan industri.

