Jakarta, KotaKita – Perum Bulog mengukir sejarah baru dalam upaya penguatan ketahanan pangan nasional. Lembaga strategis ini berhasil menyerap beras petani dalam negeri sebanyak 4.131.492 ton, sebuah angka yang melampaui target nasional 4 juta ton, bahkan lebih cepat dari perkiraan. Pencapaian luar biasa ini bukan sekadar statistik, melainkan fondasi krusial bagi stabilitas pasokan pangan dan cerminan nyata dari komitmen pemerintah dalam menjaga ketersediaan beras bagi seluruh rakyat Indonesia.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan bahwa rekor serapan ini merupakan bagian integral dari pelaksanaan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2026. Inpres tersebut secara spesifik mengamanatkan penguatan pengadaan dan pengelolaan gabah/beras dalam negeri serta penyaluran Cadangan Beras Pemerintah (CBP) secara berkelanjutan hingga tahun 2029. Dengan demikian, keberhasilan Bulog menjadi pilar penting dalam mewujudkan visi jangka panjang pemerintah untuk swasembada pangan.
Pencapaian ini menandai momentum bersejarah bagi Bulog dan menjadi bukti konkret efektivitas sinergi lintas sektor. Dengan merealisasikan 103,29 persen dari target nasional, Bulog tidak hanya mengamankan stok beras, tetapi juga memberikan kepastian pasar bagi para petani. Hal ini berdampak langsung pada stabilitas harga gabah di tingkat petani, memotivasi peningkatan produksi, dan menjaga kesejahteraan mereka sebagai garda terdepan produksi pangan nasional.
Di balik angka fantastis tersebut, Provinsi Jawa Timur tampil sebagai motor utama. Kantor Wilayah Bulog Jawa Timur mencatatkan kontribusi signifikan dengan menyerap 979.817 ton gabah dan beras, atau mencapai 110,85 persen dari target wilayahnya. Angka ini setara dengan 23,7 persen dari total pengadaan nasional, menegaskan posisi Jawa Timur sebagai salah satu lumbung pangan strategis Indonesia yang tak tergantikan.
Keberhasilan ini, seperti yang disampaikan Rizal Ramdhani, tak lepas dari arahan Presiden Republik Indonesia dalam memperkuat ketahanan pangan. Optimalisasi pengadaan gabah dan beras dalam negeri dilakukan melalui koordinasi yang erat dengan berbagai pemangku kepentingan. Petani, pemerintah daerah, Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional (Bapanas), mitra penggilingan, hingga dukungan aparat keamanan seperti TNI dan Polri melalui Tim Jemput Pangan, semuanya berperan aktif memastikan penyerapan hasil panen berjalan lancar hingga ke sentra-sentra produksi.
Sinergi ini menunjukkan bahwa keberhasilan penguatan stok pangan adalah hasil kolektif. Dari hulu hingga hilir, setiap elemen terlibat dalam memastikan bahwa Cadangan Beras Pemerintah selalu dalam kondisi optimal, siap menghadapi tantangan fluktuasi pasokan maupun permintaan di masa mendatang. Komitmen seluruh insan Bulog, dari kantor pusat hingga jajaran operasional di lapangan, menjadi kekuatan pendorong di balik rekor tertinggi sepanjang sejarah perusahaan ini.
Dengan capaian ini, Bulog tidak hanya melampaui target, tetapi juga mempertegas peran sentralnya sebagai penjaga kedaulatan pangan nasional. Ini adalah bukti nyata bahwa dengan kolaborasi, dedikasi, dan visi yang jelas, Indonesia mampu membangun benteng ketahanan pangan yang kokoh, menjamin ketersediaan beras yang cukup, merata, dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat.

