JAKARTA – PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) bersiap melancarkan ekspansi signifikan dalam upaya mewujudkan kemandirian energi dan pengelolaan sampah berkelanjutan di Indonesia. Perusahaan ini menargetkan delapan lokasi baru untuk proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) dapat memulai tahap peletakan batu pertama atau groundbreaking pada kuartal pertama tahun 2027. Langkah ambisius ini diproyeksikan menarik gelontoran investasi yang masif, menandai babak baru dalam pengembangan energi terbarukan berbasis limbah.
CEO Denera, Fadli Rahman, mengungkapkan bahwa proyek tahap kedua ini diestimasikan menyerap nilai pembiayaan yang fantastis, mencapai 3,6 kali lipat dari total kebutuhan investasi sebelumnya. Angka ini mencerminkan optimisme tinggi dari para investor dan lembaga perbankan, yang kian tertarik dengan sektor PSEL berkat adanya reformasi regulasi yang komprehensif. Perbaikan fundamental dalam kerangka hukum dan kebijakan telah berhasil meningkatkan daya tarik serta bankability proyek-proyek ini secara signifikan.
Fadli menjelaskan bahwa kunci utama di balik derasnya aliran modal ini terletak pada tiga pilar utama reformasi: jaminan kepastian lahan, kejelasan skema pengembalian modal, dan perbaikan sistem tarif yang lebih adaptif. “Komitmen yang telah diberikan, khususnya untuk batch kedua dan proyek-proyek selanjutnya, adalah buah dari reformasi kelembagaan. Ini secara drastis meningkatkan bankability proyek-proyek PSEL. Kini, ada kepastian berusaha, pengembalian investasi yang jelas, serta solusi untuk masalah tarif dan penyediaan lahan,” ujar Fadli dalam sebuah media briefing di Kantor Denera, Jakarta Selatan, Senin (19/10).
Lebih lanjut, Denera akan mengadopsi skema pendanaan yang strategis untuk delapan lokasi PSEL di tahap kedua ini. Denera akan bertindak sebagai pemegang saham mayoritas dengan porsi sebesar 51 persen. Struktur pembiayaan yang direncanakan melibatkan 70 persen pinjaman dari perbankan, sementara sisa 30 persen akan dipenuhi melalui porsi ekuitas gabungan antara Denera dan mitra konsorsium terpilih. Model pendanaan ini diharapkan mampu mengoptimalkan sinergi antara keahlian Denera dan dukungan finansial dari lembaga keuangan serta mitra strategis.
Saat ini, Denera tengah merampungkan tahap pengerjaan desain rekayasa dasar (basic engineering design), sebuah fase krusial sebelum melangkah ke penetapan keputusan investasi final (Final Investment Decision/FID). Proses ini membutuhkan ketelitian tinggi untuk memastikan semua aspek teknis dan operasional telah direncanakan dengan matang. Adapun surat penunjukan mitra resmi atau Letter of Award (LoA) ditargetkan akan terbit pada pertengahan Desember mendatang, membuka jalan bagi finalisasi kemitraan.
Meskipun target groundbreaking di awal 2027 sudah ditetapkan, Fadli menekankan bahwa progres tersebut sangat bergantung pada percepatan proses perizinan. “Setelah penandatanganan perjanjian pemegang saham dengan mitra kami, ini sangat bergantung pada progres perizinan. Karena perizinannya sangat banyak, dan ini sedang kami kejar secara paralel. Mudah-mudahan, di kuartal 1 semuanya sudah bisa di-groundbreaking secara bertahap,” pungkasnya, menunjukkan tantangan birokrasi yang perlu diatasi untuk merealisasikan visi ambisius Denera.

