Site icon Media KotaKita

Harmoni Lima Abad Jakarta: Undangan Spesial untuk Raja dan Sultan Nusantara

GAUNG perayaan akbar menyelimuti Ibu Kota Jakarta, seiring persiapan menuju usia ke-500 pada tahun 2027 mendatang. Dalam sebuah momen yang sarat makna budaya, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, secara resmi melayangkan undangan kehormatan kepada para raja dan sultan dari seluruh penjuru Nusantara untuk turut serta merayakan tonggak sejarah lima abad kota metropolitan ini.

Pernyataan penting ini disampaikan Rano Karno di tengah kemeriahan Karnaval Sarendo-Rendo yang memukau di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, pada Minggu (18/10/2026). “Insyaallah, tahun depan Jakarta akan genap berusia 500 tahun, sebuah perjalanan lima abad yang luar biasa. Kami sangat berharap dapat menyambut kembali kehadiran yang mulia para raja dan sultan Nusantara untuk berkumpul di Jakarta,” ujar Rano, menyoroti pentingnya pelibatan seluruh elemen budaya bangsa dalam perayaan monumental tersebut.

Lebih dari sekadar perayaan ulang tahun kota, inisiatif ini menggarisbawahi komitmen kuat Jakarta untuk melestarikan dan merayakan keberagaman budaya yang menjadi denyut nadinya. Rano Karno menegaskan bahwa Jakarta, dalam esensinya, adalah miniatur Indonesia; sebuah mosaik yang terdiri dari berbagai suku, bahasa, dan tradisi. “Jakarta ini bukan sekadar Betawi semata. Di sini bersemayam pula Jawa, Bugis, Tionghoa, Ambon, Bali, dan berbagai etnis lainnya. Adalah tanggung jawab kita bersama untuk menjaga dan melestarikan kekayaan budaya ini, mewariskannya kepada generasi penerus,” paparnya dengan nada penuh semangat.

Rano menilai, keberagaman bukan hanya sekadar identitas, melainkan juga kekuatan fundamental yang membentuk karakter Jakarta sebagai kota global. Oleh karena itu, upaya pelestarian budaya tidak dapat dipisahkan dari visi Jakarta untuk menjadi pusat peradaban dunia yang modern namun tetap berakar pada tradisi luhur.

Karnaval Sarendo-Rendo sendiri, sebuah istilah Betawi yang berarti ‘beramai-ramai’ atau ‘berjalan bersama dalam rombongan’, menjadi cerminan nyata dari semangat kebersamaan ini. Acara yang berlangsung selama dua hari (17-18 Oktober 2026) dan mencapai puncaknya dengan pawai di Bundaran HI, merupakan platform vital bagi para pegiat seni untuk memamerkan kekayaan tradisi Betawi dan Nusantara.

Dalam pawai akbar tersebut, kehadiran sekitar 100 raja dan sultan dari berbagai wilayah Nusantara, yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN), menjadi bukti nyata bahwa semangat kebersamaan budaya ini terus menyala. Sarendo-Rendo bukan hanya festival, melainkan juga wadah untuk memperkuat tali silaturahmi, memupuk persatuan di tengah perbedaan, serta menegaskan posisi Jakarta sebagai gerbang kebudayaan nasional yang merangkul semua.

Melalui perayaan lima abad ini dan berbagai agenda budaya pendukungnya, Jakarta bertekad untuk tidak hanya merayakan masa lalu, tetapi juga mengukuhkan identitasnya sebagai kota yang maju, inklusif, dan kaya akan warisan leluhur.

Exit mobile version