MEDAN – Provinsi Sumatera Utara (Sumut) kembali dihadapkan pada tantangan serius terkait kualitas udara menyusul meluasnya fenomena kabut asap. Menanggapi kondisi yang meresahkan ini, Pemerintah Provinsi Sumut di bawah kepemimpinan Gubernur Bobby Afif Nasution mengambil langkah progresif dengan mengintensifkan upaya modifikasi cuaca guna meminimalisir dampak kabut asap kiriman yang telah menyelimuti sebagian besar wilayah.
Gubernur Bobby Nasution menegaskan bahwa inisiatif modifikasi cuaca ini merupakan respons cepat Pemprov untuk mengatasi ancaman kesehatan dan gangguan aktivitas masyarakat. Program ini bertujuan untuk meningkatkan curah hujan secara artifisial, yang diharapkan mampu membilas partikel-partikel asap di atmosfer. “Mulai hari ini hingga esok, kami telah memulai upaya modifikasi cuaca di sejumlah titik vital, dengan fokus awal di kawasan Danau Toba,” ujar Bobby, mengindikasikan prioritas pada wilayah strategis.
Lebih lanjut, teknologi modifikasi cuaca (TMC) ini direncanakan akan diterapkan secara bertahap di seluruh penjuru Sumut, menyasar area-area yang paling terdampak atau memiliki potensi tinggi untuk terpapar kabut asap. Pendekatan bertahap ini menunjukkan strategi yang terencana dan komprehensif dalam penanggulangan bencana non-alam ini.
Tak hanya mengandalkan TMC, Pemprov Sumut juga aktif menjalin komunikasi dan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), yang memiliki pengalaman dalam penanganan kabut asap. Salah satu metode yang dibahas adalah penggunaan dry ice atau es karbon dioksida padat. Metode ini dipercaya dapat membantu mengangkat asap ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi sehingga tidak membahayakan kualitas udara di permukaan. Bobby menyatakan kesiapan untuk mengadopsi metode dry ice sebagai alternatif atau pelengkap jika modifikasi cuaca belum optimal dalam menghasilkan hujan.
Situasi ini semakin mendesak mengingat hasil pemantauan Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah I Medan. Kepala BMKG Hendro Nugroho menjelaskan, meskipun citra satelit pada Selasa (13/10) tidak menunjukkan adanya titik panas (hotspot) di wilayah Sumut, kabut asap terdeteksi melanda seluruh provinsi. “Pengamatan terbaru dari Stasiun Meteorologi Aek Godang dan Silangit pada pukul 10.00 WIB menunjukkan penurunan jarak pandang signifikan, dari 1 hingga 4 kilometer,” terang Hendro. Ini mengindikasikan bahwa kabut asap yang terjadi merupakan fenomena kiriman dari daerah lain.
Data kualitas udara juga memperkuat kekhawatiran ini. Pemantauan partikel PM2.5, yang merupakan indikator polusi udara sangat halus, menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Sumut berada dalam kategori “sedang” hingga “tidak sehat”. Kondisi ini tentu berimplikasi langsung pada kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan. Oleh karena itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan dan selalu mengenakan masker apabila terpaksa beraktivitas di area yang berkabut atau memiliki jarak pandang rendah.
Langkah-langkah strategis yang diusung oleh Gubernur Bobby Nasution, mulai dari penerapan modifikasi cuaca hingga kolaborasi regional dan kesiapan metode alternatif, menunjukkan komitmen kuat Pemprov Sumut dalam menjaga kesehatan dan kenyamanan warganya. Upaya terpadu ini diharapkan mampu mengembalikan kualitas udara yang lebih baik dan melindungi masyarakat dari dampak buruk kabut asap.

