Site icon Media KotaKita

Antrean BBM Mengular di Buleleng: Pemkab dan Pertamina Jamin Pasokan Stabil

Fenomena antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Buleleng, Bali, kembali menjadi sorotan publik. Pemandangan barisan kendaraan roda dua dan empat yang mengular hingga ratusan meter ke jalan raya tak hanya menimbulkan kemacetan, namun juga memicu kekhawatiran akan ketersediaan pasokan energi vital ini.

Salah satu lokasi yang paling terdampak adalah SPBU di Jalan Gajah Mada, Singaraja. Warga harus rela menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan bahan bakar, sebuah pengorbanan yang tak jarang mengganggu aktivitas harian dan produktivitas mereka. Edy Toro, salah seorang warga yang terjebak dalam antrean, mengungkapkan kekesalannya. “Sudah sekitar dua jam saya mengantre. Antreannya panjang sekali. Namun, mau tidak mau harus menunggu karena kendaraan perlu BBM untuk bekerja. Kalau terus begini, tidak bisa kerja,” ujarnya, menggambarkan betapa krusialnya BBM bagi mata pencahariannya.

Menanggapi situasi ini, Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, angkat bicara. Sutjidra menegaskan bahwa secara umum stok BBM di Pulau Bali, termasuk Buleleng, berada dalam kondisi tercukupi. Berdasarkan hasil pemantauan pemerintah daerah, antrean di beberapa SPBU diklaim mulai berangsur normal, meskipun masih ada beberapa titik yang menunjukkan kepadatan. “Kami sudah memantau beberapa lokasi SPBU. Antrean sudah mulai agak lengang. Memang masih ada antrean, tetapi pasokannya dipastikan sudah mencukupi,” jelas Sutjidra, seraya menambahkan bahwa pasokan reguler terus datang.

Pemerintah Kabupaten Buleleng, melalui Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Koperasi UKM, telah ditugaskan untuk melakukan monitoring intensif di setiap SPBU demi memastikan kelancaran distribusi. Koordinasi erat dengan Pertamina juga terus dilakukan untuk menjamin suplai bahan bakar yang stabil dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Bupati Sutjidra juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan atau panic buying, yang justru dapat memperkeruh kondisi dan memicu antrean. Ia secara tegas meminta warga untuk membeli BBM sesuai kebutuhan dan tidak menggunakan jeriken atau botol untuk menimbun bahan bakar. “Kami berharap masyarakat tidak lagi panic buying, artinya harus membeli bahan bakar sesuai kebutuhan. Jangan sampai membawa jeriken atau botol. Pemerintah sudah menjamin pasokan BBM untuk Pulau Bali,” tegasnya.

Meskipun demikian, ada kebijakan diskresi untuk situasi darurat. Pembelian menggunakan jeriken tidak lagi dilayani, namun bagi pengendara sepeda motor yang mogok karena kehabisan bensin di dekat SPBU, mereka dapat membeli 2-3 liter dengan botol kecil agar bisa melanjutkan perjalanan. Selain itu, Sutjidra memastikan bahwa ketersediaan BBM untuk layanan darurat seperti rumah sakit dan pengangkutan sampah tidak terganggu. Kebutuhan bahan bakar untuk sektor-sektor esensial ini telah diatur melalui mekanisme khusus dengan jadwal pengambilan yang pasti, hasil koordinasi antara Pemprov Bali dengan Pertamina.

Situasi antrean BBM ini menjadi pengingat akan pentingnya manajemen pasokan energi yang efektif dan komunikasi yang transparan antara pemerintah, penyedia, dan masyarakat demi menjaga stabilitas ekonomi dan kenyamanan publik di wilayah Buleleng.

Exit mobile version