Site icon Media KotaKita

Ancaman Nyata Karhutla di OKI: Pertaruhan Nyawa Selamatkan Puluhan Rumah dari Amukan Api Gambut

Kecamuk api kembali melanda bumi Sumatera Selatan, kali ini di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), menghadirkan bayang-bayang kelam ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian dekat dengan pemukiman. Setidaknya sepuluh rumah warga di Kelurahan Perigi, Kecamatan Kayu Agung, nyaris musnah dilalap si jago merah yang membara hanya berjarak lima meter dari dinding bangunan. Peristiwa menegangkan ini bukan sekadar insiden, melainkan sebuah narasi pahit tentang pertarungan sengit antara manusia melawan amukan alam yang seringkali dipicu oleh ulah tangan tak bertanggung jawab.

Rekaman video amatir yang beredar luas menjadi saksi bisu betapa mencekamnya situasi kala itu. Lidah api raksasa menari-nari di tengah kepulan asap tebal, mengancam untuk menelan apa saja yang ada di hadapannya. Namun, di tengah kepanikan, sebuah semangat kolaborasi terpancar. Tim gabungan dari Dinas Pemadam Kebakaran, Manggala Agni, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta TNI dan Polri, bahu-membahu bersama warga setempat. Mereka berjibaku, mempertaruhkan keselamatan diri demi mencegah kobaran api meluas ke puluhan rumah lainnya yang berjajar di sekitar lokasi.

Sholeh, salah seorang warga Kelurahan Perigi, berbagi kisah pilu namun penuh keberanian. Menurutnya, karhutla di wilayahnya telah berlangsung selama dua hari berturut-turut. “Kami di sini hanya bisa menunggu bantuan. Warga juga berjaga, mencoba memadamkan api seadanya,” ungkap Sholeh dengan nada getir, mengingat detik-detik saat satu rumah kebun telah hangus dan belasan rumah lain terancam. Dia menuturkan bahwa hampir semua dinding rumah yang terpapar api merasakan panasnya jilatan bara, sebuah bukti betapa dekatnya bahaya yang mengintai.

Kecurigaan warga mengarah pada tindakan pembakaran disengaja untuk pembukaan lahan baru. Lahan gambut yang kering kerontang di dekat perkampungan mereka menjadi sasaran empuk para pelaku. “Dari sana sekitar lima hektare, lalu merambat ke sini lebih dari 20 hektare, mungkin lebih,” jelas Sholeh, menggambarkan kecepatan dan luasnya sebaran api. Kawasan lahan gambut yang sangat rentan terbakar, ditambah musim kemarau, menciptakan kondisi ideal bagi api untuk menjalar tak terkendali, bahkan menembus hingga kawasan Lembak Permai. Ironisnya, peristiwa semacam ini bukanlah hal baru bagi warga Perigi; setiap musim kemarau tiba, ancaman karhutla seolah menjadi tamu langganan.

Meski upaya pemadaman awal berhasil mengendalikan situasi dan mencegah kerugian yang lebih besar, kewaspadaan di Kelurahan Perigi masih tinggi. Tim gabungan dan warga tetap siaga penuh, mengantisipasi kemungkinan munculnya titik api susulan. Karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar, bahkan setelah api utama dipadamkan, menuntut perhatian ekstra. Warga sangat berharap agar BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, serta para relawan tetap berada di garis depan, siap sedia 24 jam untuk melindungi mereka dari bencana yang mengintai setiap musim kemarau. Insiden di OKI ini menjadi pengingat nyata akan urgensi penanganan karhutla yang komprehensif dan berkelanjutan, bukan hanya sekadar memadamkan api, tetapi juga menindak tegas pelakunya dan mengedukasi masyarakat tentang bahaya serta pencegahannya.

Exit mobile version