Narasi publik mengenai potensi pelemahan daya beli masyarakat Indonesia belakangan ini kerap mencuat, menimbulkan kekhawatiran di berbagai sektor. Namun, Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Dradjad Hari Wibowo, dengan tegas membantah asumsi tersebut. Berdasarkan data akurat dari Badan Pusat Statistik (BPS), Dradjad menyatakan bahwa daya beli masyarakat justru tetap kuat, kokoh, dan solid, meski diakui adanya pergeseran pola konsumsi yang signifikan.
Dalam konferensi pers yang digelar di kantor BPS, Jakarta Pusat, Dradjad menjelaskan bahwa angka-angka resmi BPS secara gamblang menunjukkan realitas yang berbeda dari anggapan umum. “Kami tidak sedang membantah secara apriori, melainkan menyajikan fakta berbasis data BPS yang menegaskan bahwa tidak benar daya beli melemah. Yang terjadi adalah sebuah dinamika,” ujar Dradjad, menekankan pentingnya analisis berdasarkan bukti konkret.
Indikator utama yang menjadi dasar penegasan ini adalah lonjakan transaksi ekonomi di sejumlah sektor krusial. Dradjad menyoroti bagaimana masyarakat kini cenderung mengalokasikan pengeluaran mereka untuk kebutuhan yang menunjang gaya hidup dan mobilitas. Contoh paling kentara adalah pertumbuhan impresif di sektor transportasi dan pariwisata, termasuk layanan restoran dan hotel. Fenomena ini mengindikasikan bahwa masyarakat memiliki kapasitas finansial untuk melakukan perjalanan dan menikmati aktivitas rekreatif.
Selain itu, bukti tak terbantahkan lainnya adalah ledakan transaksi digital. Dradjad secara spesifik menunjuk pada peningkatan penggunaan QRIS yang melampaui 100 persen. “Jika transaksi QRIS mengalami peningkatan drastis, ini secara langsung mencerminkan tingginya volume transaksi dan konsumsi di tengah masyarakat, khususnya melalui marketplace dan platform daring. Jadi, sekali lagi, bukan pelemahan, melainkan pergeseran orientasi konsumsi yang sangat berarti,” jelasnya.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, turut menguatkan pernyataan Dradjad. Amalia mengungkapkan bahwa konsumsi masyarakat sepanjang semester I tahun 2026 secara konsisten tumbuh di atas 5 persen. Angka ini secara definitif menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia dan daya beli yang terjaga. “Data kami merekam bahwa pergeseran pola konsumsi masyarakat ini banyak dipengaruhi oleh gaya hidup baru dan preferensi yang berbeda,” imbuh Amalia.
Secara lebih rinci, Amalia memaparkan bahwa pertumbuhan konsumsi kini didominasi oleh sektor-sektor yang relevan dengan gaya hidup modern, seperti transportasi, restoran, dan hotel, yang semuanya tercatat mampu tumbuh di atas 6 persen. Fenomena ini mengindikasikan adaptasi masyarakat terhadap tren global dan preferensi lokal yang terus berkembang. Dengan demikian, pemerintah dan pelaku usaha perlu memahami nuansa ini untuk merumuskan strategi yang lebih tepat guna dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

