Site icon Media KotaKita

Menaker Yassierli: Sinergi Pemda dan Pusat Kunci Jembatan Lulusan Vokasi Menuju Kemandirian Ekonomi Lokal

Indonesia sedang menapaki jalan menuju visi besar 2045, sebuah cita-cita yang fondasinya kokoh dibangun dari penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di tingkat akar rumput. Dalam konteks strategis ini, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menyoroti peran krusial pemerintah daerah (pemda) sebagai arsitek jembatan penghubung antara talenta yang lahir dari program-program pelatihan kerja dengan peluang ekonomi riil. Ia dengan tegas menyampaikan bahwa keberhasilan program vokasi tidak berhenti pada selesainya proses belajar-mengajar, melainkan pada kemampuan konkret lulusannya untuk berkarya, mengakses modal, menembus pasar, atau bahkan membangun usaha mandiri.

Visi Indonesia Emas 2045, menurut Menaker, bukanlah sebuah gagasan abstrak yang hanya dirumuskan di ruang-ruang rapat ibu kota. Sebaliknya, ia adalah akumulasi dari setiap keterampilan yang diasah, setiap inovasi yang lahir dari tangan-tangan terampil anak muda di berbagai pelosok negeri, mulai dari Sukabumi hingga seluruh penjuru Nusantara. Pernyataan ini menegaskan pentingnya desentralisasi upaya peningkatan SDM, menjadikan setiap daerah sebagai lokomotif penggerak kemajuan.

Sebagai implementasi nyata dari visi tersebut, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) baru-baru ini meluncurkan program Tailor Made Training (TMT) Batch 2 di Sukabumi, Jawa Barat. Program ini dirancang dengan pendekatan adaptif dan sangat spesifik, menyediakan 100 paket pelatihan vokasi untuk menjangkau 1.600 calon peserta. Uniknya, seluruh kurikulum dan jenis pelatihan dikurasi berdasarkan empat klaster ekonomi sesuai kebutuhan pasar kerja lokal dan potensi usaha daerah. Sebanyak 400 peserta telah menunjukkan antusiasme tinggi dengan mengikuti kegiatan pembukaan tersebut.

Menaker Yassierli menggarisbawahi bahwa pelatihan vokasi harus menjadi respons adaptif terhadap dinamika dan kebutuhan pasar kerja setempat. Dengan kurikulum yang disesuaikan, peserta akan memiliki kompetensi yang relevan dan dibutuhkan oleh industri, atau modal awal yang kuat untuk menciptakan lapangan kerja sendiri melalui wirausaha. Pendekatan ini adalah kunci untuk mencetak tenaga kerja yang tidak hanya terampil, tetapi juga mandiri dan berdaya saing tinggi di era global.

Pelatihan intensif selama dua pekan ini, yang dijadwalkan dimulai pada 19 Oktober 2026, menawarkan 11 jenis kursus yang terbagi dalam empat klaster utama. Klaster Ekonomi Digital, Perkantoran, dan Komunikasi mencakup keahlian esensial seperti Practical Office Advance, Content Creator, dan Public Speaking. Klaster Pangan dan Kuliner menyiapkan peserta dalam bidang Pangan Kuliner, Roti dan Kue, Peracikan Minuman Kopi, serta Pengelolaan Kelembagaan Brigade Pangan. Sementara itu, klaster Garmen dan Fesyen fokus pada Menjahit Pakaian dan Operasi Mesin Jahit, serta klaster Kecantikan yang menyediakan pelatihan Rias Wajah.

Menaker juga berpesan agar para peserta memanfaatkan kesempatan berharga ini dengan sungguh-sungguh. Ia menegaskan bahwa sertifikasi yang diperoleh harus menjadi cerminan nyata dari kemampuan yang dikuasai, bukan sekadar formalitas, sehingga dapat menjadi paspor menuju karier gemilang.

Keberhasilan program TMT Batch 2 ini juga merupakan buah kolaborasi sinergis antara Kemnaker dengan berbagai pihak. Mitra pemerintah daerah meliputi UPT BLK pada Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Sukabumi, Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Sukabumi, Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, serta Dinas Tenaga Kerja Kota Sukabumi. Dukungan tak kalah penting juga datang dari berbagai lembaga masyarakat seperti Yayasan Al Furqon Kebonjati, Yayasan Sigma Indonesia Sinergi, Yayasan Madani Tegallega, dan LPK Badami. Sinergi multisektoral ini menunjukkan komitmen kolektif dalam membangun ekosistem ketenagakerjaan yang inklusif dan berkelanjutan.

Melalui pendekatan komprehensif yang mengintegrasikan pelatihan berkualitas, relevansi pasar, dan dukungan pascapelatihan, pemerintah berharap dapat mencetak generasi muda yang tidak hanya terampil, tetapi juga berdaya saing tinggi, siap menggerakkan roda ekonomi lokal, dan pada akhirnya, berkontribusi signifikan terhadap pencapaian Indonesia Emas 2045.

Exit mobile version