Dusun Moncongloe, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, menjadi saksi bisu haru biru kepulangan seorang putra terbaik bangsa. Ashari Samadikun, nahkoda Kapal MT Hanour 25, akhirnya kembali ke pelukan keluarga setelah lima bulan terperangkap dalam cengkeraman perompak bersenjata di perairan Somalia. Namun, di balik senyum tipis dan tangis syukur yang pecah pada Kamis (8/10) lalu, tersimpan luka mendalam dan bayangan trauma yang mungkin tak akan pernah sirna.
Ashari, dengan suara bergetar dan tatapan menerawang, mulai menuturkan drama penyanderaan yang berlangsung sejak 21 April hingga akhirnya ia dan sebagian krunya dibebaskan pada 29 September lalu. Sebuah episode hidup yang mempertaruhkan nyawa, menguji batas kesabaran, dan merenggut kebahagiaan. “Saya bisa pending dulu (berlayar). Masih memperbaiki (perasaan), karena sampai sekarang saya belum bisa (memutuskan),” ujarnya, mengungkapkan keraguannya untuk kembali melaut.
Penyanderaan terhadap 17 awak kapal MT Hanour 25 ini bukan sekadar penahanan fisik, melainkan juga guncangan mental yang tak terperikan. Ashari menceritakan titik terendah penderitaan mereka terjadi di bulan ketiga, saat semua akses komunikasi terputus total. Harapan pupus ketika makanan menipis, generator rusak, dan yang paling mengerikan, mesin pengolah air tawar ikut hancur. Di tengah kepungan maut dan tanpa pasokan, hanya doa dan keajaiban yang menjadi sandaran.
Namun, duka terberat bagi Ashari sebagai seorang kapten adalah kenyataan pahit bahwa tidak semua kru yang dipimpinnya dapat kembali dengan selamat. Dua nyawa melayang di tengah samudra ganas itu. Dengan pilu, ia mengenang detik-detik terakhir sang koki kapal yang tewas tertembak di depan matanya sendiri, tanpa sempat mengucapkan kata perpisahan terakhir kepada keluarga di kampung halaman. “Itu yang saya sangat sedih. Semoga kita semua bisa pulang dengan selamat. Tapi Allah SWT berkehendak. Ada dua kru saya tidak bisa pulang, itu yang buat saya sampai sekarang masih terpukul,” ujarnya, terbata-bata.
Sebagai nahkoda, Ashari harus menyembunyikan rasa gentarnya, memadamkan keputusasaan pribadi demi menjaga semangat 16 awak kapal lainnya agar tidak runtuh. Ia menjadi jangkar harapan di tengah badai keputusasaan, menguatkan mereka dengan keyakinan bahwa kepulangan adalah sebuah keniscayaan, bahkan ketika ia sendiri meragukannya. Sebuah beban kepemimpinan yang luar biasa di tengah situasi hidup dan mati.
Di balik ketegangan dan penderitaan, terselip kisah negosiasi alot yang turut menentukan nasib para sandera. Pihak perompak awalnya menuntut tebusan fantastis, mencapai 7 juta dolar AS. Menyadari jumlah tersebut mustahil dipenuhi, Ashari nekat beradu argumen langsung dengan pimpinan perompak. Dengan logika dan keberanian, ia menjelaskan ketidaklogisan tuntutan tersebut berdasarkan nilai kapal dan muatannya. Keberaniannya berbuah manis; tuntutan tebusan berhasil ditekan secara bertahap, dari 4 juta, lalu 3 juta, 2 juta, hingga akhirnya disepakati di angka 1,5 juta dolar AS.
Meski Ashari tidak mengetahui secara pasti pihak mana yang akhirnya memenuhi tuntutan tersebut, ia membenarkan adanya keterlibatan dua orang yang dikirim untuk membantu proses tersebut: seorang negosiator asal Inggris bernama Leslie dan satu lagi penyedia bantuan medis serta makanan. Kepulangan Ashari Samadikun menjadi pengingat pahit akan bahaya yang selalu mengintai para pelaut di perairan rawan, sekaligus sebuah ode untuk ketabahan, kepemimpinan, dan harapan yang tak pernah padam di tengah cobaan terberat.

