Site icon Media KotaKita

Gempa M6,1 Guncang Sumba Barat Daya: Ratusan Bangunan Rusak, Tiga Desa Paling Terdampak

Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali diuji oleh kekuatan alam. Pada Minggu pagi yang sunyi, wilayah ini diguncang gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,1, memicu kepanikan massal dan meninggalkan jejak kerusakan yang signifikan di beberapa desa. Insiden ini menyoroti kerentanan geografis Sumba terhadap aktivitas seismik dan urgensi kesiapsiagaan bencana.

Pusaran gempa, yang terjadi pada pukul 05.55 WIB atau 06.55 Wita, berpusat di laut, sekitar 29 kilometer barat daya Kodi dengan kedalaman relatif dangkal, yakni 30 kilometer. Analisis awal oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa episentrum gempa berada pada koordinat 9,84° LS dan 118,90° BT, digolongkan sebagai gempa dangkal yang tidak berpotensi tsunami. Namun, kedangkalannya justru memperbesar dampak guncangan di daratan, menyebabkan warga berhamburan keluar rumah dalam kepanikan.

Camat Kodi Bangedo, Elis Kaka, menggambarkan situasi pascagempa sebagai sangat mengkhawatirkan. Laporan awal menunjukkan puluhan rumah warga mengalami kerusakan parah, tidak hanya retak-retak tetapi juga beberapa di antaranya ambruk total. Tidak hanya hunian pribadi, sejumlah fasilitas umum vital seperti sekolah, rumah ibadah, dan kantor pemerintahan juga tak luput dari hantaman gempa. “Kerusakan puluhan rumah sudah pasti, hampir semua desa terdampak,” ungkap Elis, menyoroti skala dampak yang meluas.

Kecamatan Kodi Bangedo, yang terdiri dari 15 desa definitif dan tiga desa persiapan, diperkirakan mengalami dampak di hampir seluruh wilayahnya. Elis Kaka bahkan khawatir total kerusakan bisa mencapai ratusan bangunan. Data awal yang terkumpul menunjukkan tiga desa menjadi titik terdampak paling parah: Desa Maliti Bondo Ate, Desa Leka Ninyo, dan Desa Lete Loko. Ketiga desa ini secara geografis terletak hanya sekitar 6 kilometer dari episentrum gempa, menjadikannya sangat rentan terhadap guncangan hebat.

Meskipun kerusakan fisik terbilang masif, hingga saat laporan ini disusun, belum ada laporan mengenai korban jiwa atau luka-luka serius, sebuah kabar melegakan di tengah kekhawatiran yang melanda. Fokus utama saat ini adalah percepatan pendataan dan asesmen dampak. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumba Barat Daya, Stefanus Malo, menegaskan bahwa timnya sedang bekerja keras di lapangan untuk mengumpulkan data akurat, meskipun menghadapi tantangan lokasi yang cukup jauh dari pusat guncangan utama.

Peristiwa ini menjadi pengingat pahit akan realitas Indonesia sebagai negara yang rawan bencana. Respons cepat pemerintah daerah dan bantuan dari berbagai pihak akan sangat krusial dalam fase darurat dan pemulihan. Lebih dari sekadar perbaikan fisik, pemulihan psikologis masyarakat yang trauma serta penguatan infrastruktur tanggap bencana harus menjadi prioritas jangka panjang guna membangun kembali Sumba Barat Daya yang lebih tangguh dan siap menghadapi ancaman alam di masa mendatang.

Exit mobile version