Thailand kembali dihadapkan pada ujian berat kala musim hujan ekstrem memicu gelombang banjir dahsyat di sejumlah provinsi. Namun, di balik genangan air yang melumpuhkan aktivitas dan mengancam infrastruktur, muncul ancaman lain yang tak kalah serius: invasi mendadak dari satwa liar berbahaya, mengubah lanskap perkotaan dan pedesaan menjadi arena konflik antara manusia dan alam.
Peristiwa tragis terjadi di distrik Sanam Chai Khet, Provinsi Chachoengsao, ketika seekor buaya berukuran sekitar dua meter ditemukan berkeliaran di area permukiman warga. Ancaman yang ditimbulkan oleh kehadiran predator ini memaksa petugas untuk mengambil tindakan drastis, menembak mati buaya tersebut demi menjamin keselamatan publik. Insiden ini menjadi peringatan keras akan potensi bahaya yang mengintai ketika habitat alami satwa terganggu oleh meluasnya genangan air.
Otoritas setempat sebelumnya telah mengeluarkan imbauan tegas agar warga menjauhi area banjir, kanal irigasi, dan perairan yang meluap. Peringatan ini beralasan, sebab naiknya permukaan air secara signifikan mendorong reptil seperti ular dan buaya, serta hewan air lainnya, keluar dari sarangnya menuju kawasan berpenduduk. Fenomena serupa juga terpotret di ibu kota Bangkok, di mana hujan lebat hingga lebih dari 300 milimeter dalam 48 jam menyebabkan banjir parah. Foto dan video viral di media sosial menunjukkan ular berenang bebas di tengah genangan dan melintasi jalan raya, menambah kekhawatiran warga.
Tak hanya buaya dan ular, dampak banjir juga terasa pada satwa lain. Di Siam Amazing Park, puluhan rusa babi terpaksa dievakuasi, meskipun beberapa di antaranya ditemukan tak bernyawa. Di provinsi lain, laporan mengenai empat buaya yang melarikan diri dari peternakan akibat kenaikan air banjir semakin memperparah situasi.
Namun, di tengah krisis ini, kisah heroik penyelamatan satwa juga mewarnai. Di Provinsi Prachinburi, sebuah operasi penyelamatan berskala besar berhasil menyelamatkan seekor buaya raksasa bernama Nuea Thong dari Wat Pho Thong. Buaya berusia 27 tahun dengan panjang lebih dari empat meter dan berat mencapai 400 kilogram ini terancam oleh air banjir yang merendam kandangnya hingga kedalaman 1,3 meter.
Kepala Distrik Si Maha Phot, Juthamas Buaphuean, memimpin koordinasi dengan Kementerian Perikanan, relawan dari Yayasan Ruamkatanyu, dan warga lokal untuk melancarkan evakuasi rumit ini. Dengan kehati-hatian, petugas mengamankan rahang dan kaki Nuea Thong sebelum memindahkannya menggunakan derek ke truk pengangkut. Buaya kolosal ini kemudian diungsikan ke tempat penampungan sementara yang aman dari banjir, sekitar 20 kilometer dari kuil. Upaya ini meredakan kekhawatiran kepala biara dan penduduk yang cemas Nuea Thong akan lolos ke Sungai Prachin Buri.
Di sisi lain, pemerintah Thailand juga berupaya keras memitigasi dampak banjir terhadap kehidupan masyarakat. Sejumlah sekolah diliburkan dan warga diimbau untuk bekerja dari rumah, khususnya di Bangkok, yang sempat membuat jalanan dan transportasi umum relatif sepi. Juru bicara pemerintah mengakui beberapa wilayah Bangkok masih tergenang, namun menegaskan bahwa sistem drainase telah bekerja efektif dalam menurunkan permukaan air. Meskipun Thailand memang memasuki puncak musim hujan di bulan September, banyak warga menilai intensitas curah hujan dan tingkat keparahan banjir tahun ini jauh melampaui kondisi tahun-tahun sebelumnya, menggarisbawahi tantangan adaptasi iklim yang semakin nyata.

