Site icon Media KotaKita

Benteng Digital Jakarta: Generasi Muda Terlatih Hadapi Badai Hoaks Era Kecerdasan Buatan

JAKARTA, KotaKita.com – Di tengah laju disrupsi teknologi dan kompleksitas informasi digital, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) menegaskan komitmennya dalam memperkuat ketahanan digital masyarakat. Langkah strategis ini diwujudkan melalui Program Duta Antihoaks Jakarta 2026, sebuah inisiatif ambisius yang dirancang untuk mengukuhkan generasi muda sebagai garda terdepan literasi digital, khususnya dalam menghadapi ancaman hoaks di era kecerdasan buatan (AI).

Pengukuhan para Duta Antihoaks Jakarta 2026 yang dijadwalkan pada Oktober 2026, akan menandai dimulainya babak baru dalam perjuangan melawan disinformasi. Mereka akan menjadi mitra strategis Diskominfotik, memperluas jangkauan gerakan literasi digital hingga ke sekolah, kampus, komunitas, ruang publik, dan berbagai platform digital. Peran ini menjadi krusial mengingat lanskap informasi yang terus berevolusi; hoaks kini tak hanya sebatas narasi palsu, tetapi juga merambah manipulasi foto, video deepfake, konten generatif AI yang semakin sulit dibedakan, hingga beragam modus penipuan digital yang kian canggih.

Kepala Diskominfotik Provinsi DKI Jakarta, Marulina Dewi, menyoroti urgensi pendekatan literasi digital yang adaptif. “Di era AI ini, tantangan kita melampaui sekadar membedakan informasi benar dan salah. Foto, suara, bahkan video kini bisa direkayasa dengan tingkat meyakinkan yang luar biasa. Oleh karena itu, pertahanan terbaik Jakarta bukan hanya terletak pada teknologi canggih, melainkan pada masyarakat yang berdaya dan kritis—yang memiliki kebiasaan memeriksa sumber, memahami konteks, dan berpikir cermat sebelum menyebarkan informasi,” tegas Marulina.

Marulina menambahkan bahwa program Duta Antihoaks Jakarta berupaya menjaring anak muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi aksi nyata dan menggerakkan komunitas. Mereka diharapkan menjadi motor penggerak yang membuat masyarakat semakin tangguh menghadapi gempuran hoaks dan disinformasi.

Proses seleksi para finalis pun dirancang secara holistik, tidak hanya meninjau kreativitas atau kebaruan gagasan semata. Penilaian juga mencakup relevansi proyek kampanye terhadap isu-isu nyata di masyarakat, kapasitas implementasi, kemampuan komunikasi dan kepemimpinan, potensi dampak yang dihasilkan, serta keberlanjutan program tersebut. Sejumlah 10 finalis telah mempresentasikan proyek kampanye dan inovasi mereka dalam tahap penjurian pada akhir September lalu, setelah serangkaian seleksi ketat dan pembekalan sejak Juli 2026 yang dimulai dari 356 pendaftar.

“Kami tidak mencari Duta Antihoaks yang sekadar brilian di atas panggung. Kami mencari generasi muda yang mampu berbicara dengan bahasa zamannya, turun langsung ke masyarakat, dan mengubah pengetahuan menjadi sebuah gerakan kolektif. Setelah terpilih, tugas mereka justru baru dimulai,” pungkas Marulina Dewi.

Melalui inisiatif Duta Antihoaks Jakarta 2026, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bertekad mengkonsolidasikan gerakan ‘Jakarta Lawan Hoaks’ menjadi sebuah gerakan bersama yang menginspirasi kebiasaan baru di masyarakat: kritis dalam menerima informasi, cermat dalam memverifikasi, dan bertanggung jawab penuh sebelum memutuskan untuk membagikannya.

Exit mobile version